TRENGGALEK NJENGGELEK - Touring motor listrik menuju kawasan Dieng, Jawa Tengah, kembali membuktikan perkembangan kendaraan listrik di Indonesia semakin serius.
Kali ini, rombongan pengguna Polytron Fox S sukses menempuh perjalanan panjang melewati jalur pegunungan ekstrem dengan dukungan charging PLN di beberapa titik.
Perjalanan dimulai dari Boyolali menuju Selo, kemudian lanjut ke Borobudur, Wonosobo, hingga Dieng.
Total perjalanan mencapai lebih dari 123 kilometer dengan kondisi jalan dominan menanjak dan berkabut.
Motor yang digunakan adalah Polytron Fox S dengan tambahan extender baterai 50 Ah.
Dengan kombinasi baterai utama dan extender, total kapasitas mencapai 100 Ah untuk menghadapi jalur berat khas pegunungan Dieng.
Di awal perjalanan, rombongan sudah dihadapkan dengan kabut tebal di kawasan Selo.
Jarak pandang bahkan hanya sekitar 20 meter sehingga pengendara harus ekstra hati-hati.
Selain medan ekstrem, suhu dingin pegunungan juga menjadi tantangan tersendiri bagi performa kendaraan listrik.
Charging PLN Jadi Penyelamat Touring
Salah satu hal yang paling disorot dalam perjalanan ini adalah keberadaan fasilitas charging kendaraan listrik di sejumlah kantor PLN.
Rombongan sempat berhenti di PLN Borobudur untuk melakukan pengisian daya sekaligus berkumpul dengan komunitas motor listrik lainnya.
Titik charging di lokasi tersebut dinilai sangat membantu pengguna kendaraan listrik yang ingin melakukan perjalanan jauh.
Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju PLN Wonosobo sebelum akhirnya naik ke kawasan Dieng.
“Untuk rekan-rekan yang mau ke Borobudur bisa mampir ke PLN Borobudur untuk charging,” ujar peserta touring.
Keberadaan SPLU di titik nol Dieng juga menjadi perhatian karena dapat dimanfaatkan wisatawan pengguna motor listrik.
Polytron Fox S Diuji di Jalur Ekstrem
Memasuki kawasan Dieng, kondisi jalan semakin berat. Tanjakan panjang dengan tikungan tajam membuat konsumsi baterai meningkat drastis.
Dalam salah satu tanjakan, motor hanya mampu melaju sekitar 27 km/jam meski arus sudah menyentuh 50 ampere.
Namun performa Polytron Fox S dinilai tetap stabil. Pengendara bahkan sempat mengecek suhu BLDC motor setelah melewati tanjakan curam dan hasilnya masih aman.
Selain itu, fitur anti mundur pada Polytron Fox S juga ikut diuji. Pengendara menunjukkan bahwa motor tidak akan mundur apabila teknik penggunaan gas dan rem dilakukan dengan benar.
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab keluhan sebagian pengguna motor listrik yang menganggap kendaraan mudah mundur saat berhenti di tanjakan.
Komunitas Motor Listrik Terus Berkembang
Touring ini juga memperlihatkan kuatnya solidaritas komunitas motor listrik Indonesia.
Sejumlah peserta saling membantu ketika ada motor yang mengalami kendala teknis di perjalanan.
Salah satu motor konversi bahkan harus menjalani remap ulang controller akibat kondisi tanjakan yang terlalu berat.
Meski sempat beberapa kali berhenti, rombongan akhirnya berhasil mencapai penginapan di kawasan Dieng dengan selamat.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa motor listrik kini bukan hanya cocok digunakan di perkotaan, tetapi juga mulai layak dipakai touring lintas daerah dengan medan berat.
Didukung kapasitas baterai besar, teknik berkendara yang tepat, serta infrastruktur charging yang semakin banyak, motor listrik perlahan mulai menjadi pilihan baru masyarakat Indonesia untuk perjalanan jarak jauh.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan