JAKARTA - Mobil Nissan mahal meski penjualannya di Indonesia tidak sebesar merek Jepang lain seperti Toyota dan Honda. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan konsumen otomotif, terutama karena market share Nissan dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami penurunan.
Padahal, mobil Nissan mahal bukan tanpa alasan. Pabrikan asal Jepang tersebut memiliki strategi bisnis yang berbeda dibanding sebagian besar kompetitornya di Indonesia. Alih-alih berfokus pada kebutuhan pasar lokal, Nissan lebih mengutamakan standar global dalam pengembangan produknya.
Strategi tersebut membuat mobil Nissan mahal karena spesifikasi, kualitas material, fitur keselamatan, hingga teknologi yang digunakan mengikuti standar internasional. Namun di sisi lain, pendekatan itu justru membuat Nissan kesulitan bersaing dari sisi harga dengan produsen lain yang lebih agresif menyesuaikan produk untuk pasar domestik.
Pernah Bersinar Lewat Grand Livina
Bagi pecinta otomotif Indonesia, nama Nissan sempat berjaya lewat kehadiran Nissan Grand Livina generasi pertama. Saat diluncurkan, MPV tersebut mampu mengusik dominasi Toyota Avanza yang kala itu menjadi penguasa pasar mobil keluarga.
Grand Livina menawarkan kenyamanan berkendara yang lebih baik dibanding rivalnya. Mulai dari kualitas suspensi, tingkat peredaman kabin, hingga fitur keselamatan yang dinilai lebih lengkap pada zamannya.
Namun setelah kesuksesan Grand Livina, Nissan kesulitan menghadirkan produk lain yang mampu mencetak penjualan besar. Akibatnya, jaringan dealer menjadi semakin sepi dan posisi Nissan di pasar otomotif nasional terus melemah.
Baca Juga: Samsung Galaxy A57 5G Turun Harga hingga Rp1,5 Juta, Masih Layak Dibeli atau Kalah dari Galaxy A56?
Standar Global Jadi Penyebab Harga Tinggi
Salah satu alasan utama mengapa harga mobil Nissan relatif tinggi adalah penggunaan standar global dalam proses pengembangan kendaraan.
Berbeda dengan beberapa kompetitor yang menyesuaikan spesifikasi berdasarkan kebutuhan pasar lokal, Nissan cenderung mempertahankan kualitas global untuk berbagai negara. Dampaknya, fitur keselamatan dan kenyamanan yang diberikan biasanya lebih lengkap.
Sebagai contoh, Grand Livina pada masanya menawarkan perlindungan keselamatan yang lebih baik dibanding kompetitor sekelasnya. Selain itu, penggunaan material interior dan sistem peredaman juga dinilai lebih unggul.
Konsekuensinya, biaya produksi menjadi lebih tinggi dan harga jual kendaraan sulit ditekan.
Volume Penjualan Rendah dan TKDN Minim
Masalah lain yang dihadapi Nissan adalah volume penjualan yang tidak pernah mencapai skala ideal.
Dalam industri otomotif, semakin tinggi volume produksi maka biaya produksi per unit dapat ditekan. Sayangnya, sebagian besar model Nissan gagal mencatatkan penjualan besar selain Grand Livina.
Kondisi tersebut diperparah dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang relatif rendah. Banyak komponen kendaraan Nissan masih mengandalkan impor dari luar negeri sehingga biaya produksi semakin tinggi.
Ketika volume kecil bertemu biaya produksi besar, harga jual kendaraan otomatis menjadi lebih mahal dibanding kompetitor.
Teknologi Lebih Maju, Tapi Tidak Selalu Berhasil
Nissan juga dikenal sebagai salah satu produsen Jepang yang cukup agresif menghadirkan teknologi baru.
Fitur-fitur seperti cruise control, sistem infotainment modern, hingga penggunaan transmisi CVT lebih dahulu diperkenalkan Nissan dibanding beberapa rivalnya.
Namun strategi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Salah satu contohnya adalah transmisi CVT Nissan yang sempat menuai kritik di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Secara teori, CVT Nissan menawarkan efisiensi bahan bakar dan kenyamanan berkendara yang lebih baik. Namun sejumlah pengguna mengeluhkan daya tahan komponen yang dianggap belum sepenuhnya matang.
Inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa mobil Nissan memiliki kualitas baik tetapi belum tentu unggul dari sisi keawetan jangka panjang.
Jarang Sunat Fitur Dibanding Kompetitor
Meski harga jualnya lebih tinggi, Nissan memiliki keunggulan lain yang cukup dihargai konsumen, yakni minim pengurangan fitur.
Banyak produsen otomotif melakukan pengurangan fitur tertentu demi menjaga harga tetap kompetitif. Sebaliknya, Nissan cenderung mempertahankan spesifikasi global sehingga konsumen mendapatkan fitur yang lebih lengkap.
Mulai dari fitur keselamatan, kenyamanan, hingga teknologi pendukung berkendara biasanya tetap tersedia meskipun mobil tersebut dipasarkan di negara berkembang.
Karena itu, meski kerap dianggap mahal, banyak pengamat menilai produk Nissan tidak bisa disebut overprice. Konsumen umumnya memperoleh kualitas, fitur, dan teknologi yang sebanding dengan harga yang dibayarkan.
Pada akhirnya, tingginya harga mobil Nissan bukan semata-mata karena strategi pemasaran, melainkan akibat kombinasi standar global, volume penjualan rendah, penggunaan komponen impor, serta teknologi yang lebih maju dibanding sebagian kompetitornya. Faktor-faktor itulah yang membuat Nissan sulit menawarkan harga semurah rival-rivalnya di pasar Indonesia.
Editor : Divka Vance Yandriana