TRENGGALEK NJENGGELEK– Kehadiran lini motor listrik premium dari PT Astra Honda Motor (AHM) masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan di jagat otomotif tanah air. Setelah resmi diluncurkan secara massal, motor listrik kasta tertinggi yang dibanderol mulai dari Rp 54 jutaan hingga Rp 59 jutaan OTR Jakarta ini akhirnya diuji secara ekstrem untuk penggunaan komuter harian selama 5 hari penuh. Hasilnya, motor yang awalnya berbasis dari unit Honda SC e: Concept di ajang pameran global tersebut memicu perdebatan sengit mengenai kepantasan fungsionalitasnya di aspal Indonesia, terutama jika disandingkan dengan sang adik, spesifikasi Honda EM1 e:.
Dari hasil pengujian jangka pendek tersebut, Honda CUV e: terbukti membawa DNA layaknya sebuah "motor konsep" yang diproduksi massal. Di satu sisi, pabrikan menyematkan ekosistem fitur mutakhir yang mewah dengan status rata kanan. Namun di sisi lain, kapabilitas performa baterai harian dan akomodasi fisiknya dinilai masih berada di status rata kiri. Hal ini memicu kesimpulan bahwa motor listrik ini belum sepenuhnya fleksibel untuk memenuhi ekspektasi kultur berkendara masyarakat lokal yang menuntut fungsionalitas serba bisa.
Berikut adalah rangkuman ulasan jujur mengenai kelebihan dan kekurangan fatal dari Honda CUV e: model 2026 setelah diajak berkeliling membelah kemacetan kota:
Sektor Minus: Jarak Tempuh Riil dan Bagasi yang Terpangkas Habis
Kelemahan paling krusial yang dirasakan selama 5 hari pengujian terletak pada manajemen daya baterai. Honda CUV e: dibekali dua unit baterai Honda Mobile Power Pack dengan kapasitas total 2,8 KWH. Meskipun di atas kertas AHM mengklaim daya jelajahnya mampu menyentuh 80 kilometer, pengujian riil dari kondisi baterai 100% hingga benar-benar habis total (0% dan mogok) hanya mampu menempuh jarak sejauh 73 kilometer. Karakteristik pengisian daya mandiri di rumah membutuhkan waktu sekitar 6 jam dari posisi kosong. Sementara infrastruktur penukaran tandon daya (Honda Power Pack Swap Station) di diler-diler terpilih jumlahnya dinilai masih belum masif dan cukup menyulitkan untuk kebutuhan darurat.
Kelemahan fatal kedua menjalar ke sektor kompartemen di balik sespan. Jika pada skuter matik konvensional area bagasi menjadi fitur paling diunggulkan, pada Honda CUV e: area ini hampir tidak berguna karena habis termakan oleh dimensi dua baterai besar. Ruang yang tersisa di bawah jok sangat sempit, hanya muat untuk menyimpan lap kanebo atau STNK saja. Bahkan, jas hujan model setelan (jaket dan celana) ukuran XL tidak akan muat di bagasi ini, ditambah adanya besi tiang penahan di balik jok yang dipasang agar baterai tidak terguncang (rattle) saat motor melaju.
Sektor Plus: Fitur RoadSync Duo Kelas Atas dan Ergonomi Senyaman Vario
Di balik kekurangannya, kompensasi yang ditawarkan Honda pada motor ini sangat melimpah dari segi kemewahan fitur. Varian tertinggi CUV e: dibekali panel instrumen digital TFT 7 inci yang sangat responsif mirip tablet pintar. Sistem Honda RoadSync Duo di dalamnya mampu menampilkan peta navigasi Google Maps secara utuh tanpa gejala patah-patah (stuttering), serta terintegrasi penuh untuk memutar musik via Spotify dan menerima panggilan telepon secara seamless. Area dek bawahnya juga dirancang rata dan fungsional, sanggup menampung hingga dua galon air minum secara aman.
"Dari segi ergonomi, impresi posisi berkendara Honda CUV e: ini terasa sangat familier karena persis seperti mengendarai Honda Vario 125, mulai dari dimensi stang hingga posisi dada. Dengan tinggi jok 761 mm dan bobot berkisar 118 kg, motor ini sangat bersahabat saat diajak melakukan manuver stop-and-go. Karakternya joknya lebar dan empuk, sehingga bokong tidak mudah panas saat terjebak macet," tulis laporan pengujian jangka panjang AutonetMagz.
Karakteristik Torsi yang Logis dan Kedewasaan Rasa Berkendara
Urusan performa, dinamo penggerak 6 kW milik CUV e: memproduksi tenaga 8 PS dan torsi puncak 22 Nm dengan kecepatan maksimum riil di angka 85 km/jam. Menariknya, angka torsi 22 Nm ini dinilai jauh lebih logis dan realistis untuk ukuran motor harian dibandingkan klaim ratusan Newton meter pada motor listrik murah asal Cina yang sering kali tidak masuk akal secara mekanis. Ketika diuji pada jalur tanjakan terjal dengan kecuraman ekstrem 23 derajat, motor ini terbukti kuat menanjak sendirian atau berboncengan dengan catatan harus menggunakan ancang-ancang kecepatan sejak awal. Namun jika dipaksa berhenti di tengah tanjakan curam saat berboncengan, indikator temperatur di panel TFT akan memunculkan sinyal warning tanda dinamo mengalami overheat.
Satu hal yang tidak bisa ditiru oleh rival di kelasnya adalah kedewasaan rasa berkendara (riding feel). Bukaan gas CUV e: sangat linear, halus, dan bisa ditakar secara presisi tanpa ada gejala menyentak yang mengagetkan. Takaran pengereman Combi Brake System (CBS) miliknya juga sangat empuk. Hebatnya, sistem kelistrikan motor ini tidak akan memutus aliran daya (cut-off) saat pengendara menarik tuas rem sambil memutar gas secara bersamaan, membuat proses adaptasi dari motor bensin menjadi sangat instan. Karakter suspensi tunggal di bagian belakang memang disetel keras dengan rebound yang cepat, memberikan akurasi tajam yang sangat stabil saat motor diajak menikung dalam kecepatan tinggi.