Struktur Alam Semesta Dipertanyakan, Kesalahan Analisis Data Diduga Jadi Penyebab Klaim Mengejutkan
Klaim mengejutkan mengenai struktur alam semesta yang sempat mengguncang komunitas kosmologi kini menghadapi tantangan serius.
Temuan yang menyebut distribusi galaksi di alam semesta jauh lebih "berserat" atau membentuk jaringan raksasa dibanding prediksi teori standar diduga muncul akibat kesalahan dalam metode analisis data astronomi.
Penelitian tersebut sebelumnya memanfaatkan data dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI), proyek pemetaan galaksi terbesar di dunia.
Namun, analisis terbaru menunjukkan adanya kemungkinan kekeliruan dalam penggunaan metode pengukuran jarak antargalaksi, sehingga hasil yang diperoleh bisa menyesatkan.
Perdebatan mengenai struktur alam semesta ini menjadi sorotan karena menyangkut salah satu fondasi utama kosmologi modern, yakni apakah alam semesta benar-benar homogen dan isotropik pada skala terbesar.
Klaim Awal Mengguncang Dunia Kosmologi
Dua pekan lalu, dua kosmolog melaporkan bahwa galaksi-galaksi di alam semesta tampak membentuk pola menyerupai benang atau filamen hingga skala sekitar satu gigaparsec.
Jarak tersebut sekitar sepuluh kali lebih besar dibanding batas yang selama ini diyakini sebagai titik ketika alam semesta mulai tampak seragam.
Temuan tersebut berasal dari analisis jutaan galaksi yang dipetakan DESI menggunakan teleskop berdiameter empat meter di Arizona, Amerika Serikat.
Baca Juga: 8 HP RAM 12 GB Murah Terbaik 2026, Poco X7 5G hingga Tecno Camon 50 Pro, Mana Paling Worth It?
Hasil penelitian bahkan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi dan langsung memicu diskusi luas.
Apabila benar, hasil itu berpotensi menggoyahkan prinsip kosmologi, yaitu asumsi bahwa pada skala sangat besar alam semesta memiliki sifat yang sama ke segala arah dan di setiap lokasi.
Kesalahan Pengukuran Jarak Diduga Jadi Penyebab
Namun hanya berselang sekitar sepekan, kosmolog Till Sawala dari University of Helsinki mengunggah makalah baru di server pracetak arXiv yang menawarkan penjelasan berbeda.
Menurut Sawala, penelitian sebelumnya kemungkinan mencampurkan dua metode pengukuran jarak kosmik yang sebenarnya memiliki fungsi berbeda.
Metode pertama adalah luminosity distance, yakni memperkirakan jarak berdasarkan tingkat kecerlangan galaksi yang diterima teleskop.
Sementara metode kedua adalah comoving distance, yang menghitung posisi galaksi saat ini berdasarkan pergeseran merah (redshift) akibat ekspansi alam semesta.
Perbedaan kedua metode tersebut memang tampak sederhana, tetapi dalam analisis statistik skala kosmik dapat menghasilkan interpretasi yang sangat berbeda.
Hasil Berubah Setelah Analisis Diulang
Dalam penelitiannya, Sawala memecah distribusi galaksi menjadi pola gelombang dengan berbagai panjang menggunakan teknik matematika yang umum dipakai dalam kosmologi.
Saat menggunakan luminosity distance, pola gelombang terbesar tampak lebih kuat dibanding prediksi model kosmologi Lambda Cold Dark Matter (Lambda CDM).
Akibatnya, alam semesta terlihat lebih tidak homogen.
Namun ketika seluruh data dipetakan menggunakan comoving distance, perbedaan tersebut hampir sepenuhnya menghilang.
Bahkan setelah menambahkan koreksi kecil terhadap efek gerak lokal galaksi yang memengaruhi redshift, hasil observasi DESI hampir sepenuhnya sesuai dengan prediksi model Lambda CDM yang selama ini menjadi teori utama evolusi alam semesta sejak Big Bang.
Peneliti Asli Akui Ada Kekeliruan
Penulis utama penelitian sebelumnya, Francesco Sylos Labini, mengakui bahwa timnya memang menggunakan luminosity distance dalam pemetaan galaksi.
Meski demikian, ia menilai analisis Sawala belum sepenuhnya mereplikasi metode statistik yang digunakan dalam penelitian aslinya.
Menurutnya, pendekatan tersebut lebih sensitif terhadap anisotropi dibanding ketidakseragaman distribusi materi.
Karena itu, Sylos Labini bersama rekannya Marco Galoppo kini tengah mengulang seluruh proses analisis untuk memastikan apakah sinyal yang mereka temukan benar-benar nyata atau hanya artefak statistik.
Ia juga mengakui bahwa kritik mengenai skala jarak merupakan masukan penting yang harus diuji lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan akhir.
Masih Menunggu Jawaban Final
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja melalui proses verifikasi dan pengujian ulang secara terbuka.
Meski klaim mengenai jaringan galaksi raksasa sempat memunculkan harapan akan lahirnya pemahaman baru tentang kosmos, hasil terbaru mengindikasikan bahwa fenomena tersebut kemungkinan hanya muncul akibat perbedaan metode analisis data.
Kini komunitas ilmiah menunggu hasil evaluasi lanjutan.
Jika analisis ulang tetap menemukan sinyal yang sama, maka teori kosmologi modern dapat menghadapi tantangan besar.
Namun apabila tidak, maka model Lambda CDM kembali menunjukkan ketangguhannya dalam menjelaskan struktur alam semesta pada skala terbesar.
Editor : Jonathan Alinskie Winata