TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Mobil listrik bekas kini menjadi pilihan yang semakin menarik di tengah tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan. Penurunan harga yang cukup drastis membuat banyak model electric vehicle (EV) dapat dimiliki dengan banderol jauh lebih murah dibandingkan saat pertama kali diluncurkan.
Fenomena mobil listrik bekas ini dinilai membuka peluang bagi konsumen yang ingin beralih dari mobil berbahan bakar bensin maupun diesel tanpa harus mengeluarkan anggaran besar. Bahkan, beberapa model populer kini sudah dipasarkan di bawah Rp100 juta, menjadikannya alternatif menarik untuk kendaraan harian.
Harga mobil listrik bekas yang terus turun juga memunculkan pertanyaan baru di kalangan calon pembeli. Apakah lebih menguntungkan membeli unit baru atau justru memilih kendaraan bekas yang depresiasinya sudah sangat besar?
Baca Juga: 10 Mobil Listrik Terlaris Mei 2026: Jaecoo J5 EV Tak Tergeser, BYD Atto 1 Hilang dari 10 Besar
Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok dalam Waktu Singkat
Penurunan nilai jual kembali menjadi salah satu karakteristik yang kini melekat pada pasar mobil listrik di Indonesia. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang cenderung memiliki depresiasi lebih stabil, harga kendaraan listrik mengalami penurunan jauh lebih cepat.
Salah satu penyebab utamanya adalah kekhawatiran calon pembeli terhadap kondisi baterai setelah digunakan selama beberapa tahun. Meski sebagian besar produsen memberikan garansi baterai hingga delapan tahun, banyak konsumen masih mempertanyakan daya tahan baterai, terutama pada kendaraan yang telah menempuh jarak puluhan hingga ratusan ribu kilometer.
Kondisi tersebut membuat harga mobil listrik bekas turun cukup tajam meskipun kendaraan masih dalam kondisi baik dan memiliki dokumen lengkap.
Wuling Air EV Jadi Contoh Depresiasi Paling Mencolok
Salah satu contoh paling menarik adalah Wuling Air EV. Mobil listrik mungil yang meluncur pada 2022 ini menjadi salah satu EV terlaris di Indonesia dengan penjualan mencapai sekitar 14 ribu unit.
Kini, harga Wuling Air EV Standard Range keluaran 2022 dilaporkan hanya berada di kisaran Rp95 juta. Angka tersebut bahkan sudah berada di bawah Rp100 juta, jauh lebih rendah dibanding harga saat pertama kali dipasarkan.
Sementara itu, varian Long Range juga mengalami penurunan harga signifikan. Unit bekasnya kini dijual sekitar Rp135 juta hingga Rp155 juta, tergantung kondisi kendaraan dan riwayat pemakaian.
Dengan harga tersebut, Wuling Air EV menjadi salah satu mobil listrik bekas paling menarik bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan untuk mobilitas sehari-hari di kawasan perkotaan.
Hyundai Ioniq hingga BYD M6 Ikut Mengalami Penurunan
Tidak hanya Wuling, sejumlah model lain juga mengalami depresiasi cukup besar. Hyundai Ioniq Electric keluaran 2020 misalnya, kini dipasarkan sekitar Rp195 juta di pasar mobil bekas.
Padahal, saat pertama kali hadir di Indonesia, harga mobil ini berada di kisaran Rp600 jutaan. Penurunan harga tersebut menunjukkan depresiasi yang cukup besar meski Hyundai tetap memberikan garansi baterai hingga delapan tahun sesuai ketentuan yang berlaku.
Hal serupa juga terjadi pada Hyundai Ioniq 5 Long Range Signature. Varian keluaran 2022 kini ditawarkan pada kisaran Rp379 juta hingga Rp400 juta. Saat pertama kali diluncurkan, model ini dibanderol sekitar Rp700 jutaan sehingga dalam empat tahun nilainya turun hampir separuh.
Sementara itu, BYD M6 Superior keluaran 2024 juga mulai mengalami penyesuaian harga. Unit bekasnya dipasarkan sekitar Rp329 juta, sedangkan harga baru pada 2026 masih berada di kisaran Rp423 juta.
Di sisi lain, konsumen yang menginginkan mobil listrik baru tetap memiliki sejumlah pilihan, seperti BYD Atto 1 yang dipasarkan mulai kisaran Rp280 jutaan dengan klaim jarak tempuh sekitar 380 kilometer, maupun Jaecoo J5 EV yang berada di rentang Rp240 juta hingga Rp250 jutaan.
Baca Juga: 5 Mobil Listrik Termurah 2026 di Bawah Rp300 Juta, BYD Atto 1 hingga AION UT Jadi Buruan
Melihat tren tersebut, mobil listrik bekas menjadi alternatif yang semakin menarik bagi konsumen yang mengutamakan efisiensi biaya. Dengan depresiasi yang sudah terjadi di awal masa pakai, pembeli berpotensi memperoleh kendaraan listrik dengan harga jauh lebih murah tanpa harus kehilangan manfaat utama berupa biaya operasional yang rendah dan perawatan yang lebih sederhana dibanding mobil bermesin konvensional.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : A4 Automotive