TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Mobil listrik bekas menjadi sorotan setelah harganya mengalami penurunan drastis di pasar otomotif Indonesia sepanjang 2026. Sejumlah model yang sebelumnya dibanderol ratusan juta rupiah kini bisa didapat dengan harga hampir separuh dari nilai saat pertama kali diluncurkan.
Fenomena mobil listrik bekas ini membuat banyak calon konsumen mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif mobil harian. Dengan harga yang jauh lebih terjangkau, pembeli bisa menikmati teknologi kendaraan tanpa harus membeli unit baru yang nilainya masih tinggi.
Turunnya harga mobil listrik bekas juga memunculkan dua sisi berbeda. Bagi pemilik pertama, depresiasi yang sangat cepat tentu menjadi kerugian. Namun bagi pembeli, kondisi ini justru menghadirkan peluang mendapatkan mobil listrik berkualitas dengan harga yang lebih bersahabat.
Baca Juga: Huawei Avatr 12 2025 Resmi Jadi Sorotan, Mobil Listrik Mewah Ini Punya Jarak Tempuh Fantastis
Hyundai Ioniq 5 hingga Wuling Air EV Mengalami Depresiasi Besar
Salah satu model yang paling banyak diperbincangkan adalah Hyundai Ioniq 5. Saat pertama kali meluncur pada 2022, mobil listrik ini dijual dengan harga sekitar Rp800 jutaan dan sempat memiliki daftar tunggu cukup panjang.
Kini, unit bekas produksi 2022 sudah banyak ditawarkan di kisaran Rp350 juta hingga Rp420 jutaan. Artinya, dalam waktu kurang dari empat tahun nilai jualnya telah turun hampir 50 persen.
Hal serupa juga terjadi pada Wuling Air EV. Varian Standard Range yang sebelumnya dipasarkan di kisaran Rp200 jutaan kini bisa ditemukan dengan harga mulai sekitar Rp100 jutaan. Bahkan beberapa unit dijual sekitar Rp105 juta, tergantung kondisi kendaraan.
Sementara itu, Wuling Air EV Long Range yang saat pertama hadir dibanderol sekitar Rp270 jutaan, kini banyak dipasarkan di kisaran Rp150 jutaan. Penurunan tersebut menjadikan city car listrik ini sebagai salah satu mobil listrik bekas paling diminati di Indonesia.
Tak hanya itu, BYD Dolphin yang tergolong pemain baru juga mulai mengalami penyesuaian harga. Unit produksi 2024 yang sebelumnya dijual sekitar Rp425 juta kini mulai dipasarkan di kisaran Rp300 jutaan.
Sedangkan Hyundai Kona EV generasi pertama menjadi salah satu model dengan depresiasi paling tajam. Mobil yang dulu dipasarkan sekitar Rp600 jutaan kini dapat ditemukan di pasar mobil bekas dengan harga sekitar Rp245 jutaan.
Perang Harga dan Perkembangan Teknologi Jadi Penyebab
Turunnya harga mobil listrik bekas bukan disebabkan kualitas kendaraan yang buruk. Salah satu faktor terbesar justru berasal dari perang harga antarprodusen, terutama setelah banyak merek asal China menawarkan mobil listrik baru dengan spesifikasi lebih tinggi namun harga lebih rendah.
Kondisi tersebut membuat harga kendaraan bekas ikut terkoreksi agar tetap kompetitif di pasar.
Selain itu, perkembangan teknologi kendaraan listrik berlangsung sangat cepat. Dalam waktu singkat, kapasitas baterai, efisiensi energi, fitur keselamatan, hingga jarak tempuh terus mengalami peningkatan. Akibatnya, model lama menjadi kurang menarik dibanding produk terbaru.
Faktor psikologis juga memengaruhi pasar. Sebagian calon pembeli masih memiliki kekhawatiran terhadap kondisi baterai kendaraan listrik bekas atau state of health (SOH). Mereka khawatir biaya penggantian baterai akan sangat mahal apabila kapasitasnya sudah menurun.
Di sisi lain, berbagai insentif pemerintah terhadap pembelian mobil listrik baru ikut membuat harga kendaraan bekas semakin tertekan. Skema pembiayaan dari lembaga leasing yang masih relatif konservatif terhadap EV bekas juga menjadi faktor tambahan yang mempercepat depresiasi harga.
Peluang Menarik bagi Pembeli Jangka Panjang
Meski nilai jual kembali relatif rendah, kondisi ini justru menjadi kesempatan emas bagi konsumen yang berencana menggunakan kendaraan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Harga United T1800 Bikin Penasaran, Motor Listrik Sport Ini Disebut Cocok untuk Mobilitas Perkotaan
Dengan dana sekitar Rp300 jutaan, pembeli kini berpeluang memiliki Hyundai Ioniq 5 yang menawarkan kenyamanan kabin premium, performa mumpuni, serta biaya operasional yang jauh lebih hemat dibanding mobil berbahan bakar bensin.
Sementara itu, bagi pengguna yang hanya membutuhkan kendaraan untuk mobilitas dalam kota, Wuling Air EV bekas di kisaran Rp100 jutaan dinilai menjadi pilihan rasional karena pajak lebih ringan, biaya perawatan minim, dan konsumsi energi yang efisien.
Meski demikian, calon pembeli tetap disarankan memeriksa kondisi baterai secara menyeluruh sebelum melakukan transaksi. Pemeriksaan nilai SOH menggunakan alat diagnostik resmi menjadi langkah penting agar kendaraan tetap memberikan performa optimal.
Di tengah perkembangan industri kendaraan listrik yang terus berlangsung, penurunan harga mobil listrik bekas lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar dibanding kegagalan teknologi. Bagi konsumen yang mengutamakan efisiensi dan kenyamanan, kondisi tersebut justru menjadi momentum terbaik untuk mulai beralih ke kendaraan listrik.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari