TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Berburu mobil bekas menjelang atau setelah momen Lebaran menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Namun, memilih kendaraan roda empat seken tidak boleh asal murah. Pembeli wajib memahami aspek efisiensi bahan bakar dan performa agar tidak menyesal di kemudian hari. Terkait hal ini, Hardi selaku mekanik senior dari bengkel Aha Motor Yogyakarta membagikan panduan berharga mengenai teknologi wajib yang harus ada saat memilih beli mobil bekas.
Menurut Hardi, patokan utama dalam memilih mobil seken saat ini bukan lagi mengejar kecepatan tertinggi (top speed), melainkan responsivitas atau akselerasi. Di area perkotaan yang padat, kemampuan mobil untuk melesat spontan saat menyalip jauh lebih dibutuhkan. Oleh karena itu, syarat mutlak pertama yang ia rekomendasikan adalah memilih mobil yang sudah mengusung sistem pasokan bahan bakar injeksi, bukan karburator.
Keunggulan Injeksi dan Sensor Oksigen Ganda
Sistem injeksi dinilai jauh lebih responsif karena diatur langsung oleh Electronic Control Unit (ECU). Ketika pedal gas diinjak, ECU langsung memerintahkan komponen katup udara dan injektor untuk menyemprotkan bahan bakar tanpa jeda. Selain sistem injeksi, Hardi menekankan pentingnya memeriksa keberadaan sensor oksigen (oxygen sensor).
Baca Juga: Bersih Desa Jatiprahu Pererat Kerukunan Warga Diajak Sehat Jasmani dan Rohani
"Kalau mau lebih optimal dalam efisiensi BBM, pilih mobil injeksi yang sudah memiliki dua sensor oksigen, yaitu Air-Fuel Ratio (AF) sensor di bagian atas dan oksigen sensor di bagian bawah," ujar Hardi. Teknologi ganda ini berfungsi mengoreksi emisi gas buang secara presisi, sehingga konsumsi bahan bakar menjadi jauh lebih irit meskipun biaya penggantian komponennya cenderung lebih mahal jika terjadi kerusakan.
Pentingnya Teknologi Katup Variabel (VVT-i)
Faktor ketiga yang tidak kalah krusial adalah teknologi pengaturan katup variabel, seperti VVT-i pada Toyota atau Inlet Valve Timing Solenoid pada Nissan. Teknologi mekanikal ini berfungsi mengatur waktu pembukaan dan penutupan katup udara secara fleksibel berdasarkan putaran mesin. Pada mobil-mobil generasi terbaru, sistem katup variabel ini bahkan berfungsi ganda sebagai sistem resirkulasi gas buang (EGR) internal untuk meminimalkan gejala mesin menggelitik akibat penggunaan BBM dengan oktan yang kurang tepat.
Sebagai ilustrasi nyata, Hardi membandingkan konsumsi BBM pada varian Nissan Livina generasi L10 dan L11. Varian L10 yang masih menggunakan satu sensor oksigen memang terasa lebih bertenaga di putaran tinggi, namun konsumsi BBM luar kotanya berada di kisaran 1:15 kilometer per liter. Sementara itu, varian L11 yang sudah dibekali dua sensor oksigen dan sistem dual injector mampu mencatatkan efisiensi hingga 1:17 kilometer per liter.
Baca Juga: 5 Motor Listrik Baterai Grafen Terbaik 2026, Jarak Tempuh Tembus 150 Km, Ini Daftar dan Harganya
Pertimbangan Layanan Purnajual dan Suku Cadang
Bagi calon konsumen yang memiliki dana lebih, Hardi menyarankan untuk menabung sedikit lagi demi mendapatkan mobil bekas dengan teknologi yang lebih mutakhir, misalnya memilih varian mesin Dual VVT-i. Pasalnya, semakin maju teknologi sebuah mesin, maka efisiensi berkendara harian akan semakin tinggi, yang pada akhirnya menghemat pengeluaran bulanan untuk membeli bahan bakar.
Namun, di luar urusan mesin, Hardi juga mengingatkan agar pembeli tidak melupakan aspek layanan purnajual (after-sales service). Ketersediaan bengkel resmi maupun non-resmi serta kemudahan mendapatkan suku cadang lintas level (mulai dari orisinal, second brand, hingga KW) sangat menentukan nilai investasi jangka panjang sebuah kendaraan.
"Jangan sampai kita asal tergiur beli mobil bekas harga murah yang langka di pasaran, tapi begitu mobilnya rusak malah harus ganti mobil karena tidak ada bengkel yang sanggup memperbaiki," pungkas Hardi menutup perbincangan sore itu.
Baca Juga: Polytron Fox 350 2026 Dibanderol Rp15 Jutaan, Benarkah Jarak Tempuhnya Tembus 136 Km?
Editor : Dinar Ananda Putri