TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Mobil hybrid semakin dilirik sebagai pilihan bagi konsumen yang ingin menghemat konsumsi bahan bakar tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian mobil listrik. Teknologi ini menggabungkan mesin bensin konvensional dengan motor listrik dan baterai untuk menyesuaikan sumber tenaga berdasarkan kondisi berkendara.
Dalam pembahasan video tersebut, mobil hybrid disebut menjadi pilihan di tengah kekhawatiran terhadap ketersediaan charging station untuk mobil listrik murni serta biaya bahan bakar yang masih tinggi. Penjualan kendaraan hybrid juga disebut mengalami peningkatan pada 2025, termasuk kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Secara sederhana, sistem hybrid bekerja dengan memilih atau menggabungkan tenaga mesin bensin dan motor listrik sesuai kebutuhan. Saat kendaraan berada dalam kondisi macet atau melaju pada kecepatan rendah, motor listrik dapat mengambil peran. Ketika membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin ikut bekerja.
Energi yang muncul ketika kendaraan melakukan pengereman atau melaju menurun juga dapat dimanfaatkan untuk mengisi baterai melalui sistem regenerative braking. Mekanisme tersebut membuat sejumlah jenis hybrid tidak membutuhkan pengisian baterai dari sumber listrik eksternal.
Baca Juga: 3 Tim Promosi Liga 1 2026 2027, Ada Izen Mulang dan Garuda Yaksa
Tiga Jenis Mobil Hybrid
Ada tiga jenis teknologi hybrid yang dibahas, yakni mild hybrid (MHEV), full hybrid (HEV), dan plug-in hybrid (PHEV).
Mild hybrid merupakan tingkatan paling sederhana. Motor listriknya berukuran kecil dan tidak dapat menggerakkan mobil sendirian. Sistem ini terutama membantu mesin ketika melakukan start-stop atau memberikan tambahan tenaga saat akselerasi. Keuntungannya, harga kendaraan dan karakter perawatannya cenderung lebih dekat dengan mobil konvensional. Namun, penghematan bahan bakarnya juga relatif terbatas.
Berikutnya ada full hybrid atau HEV. Jenis ini dapat bergerak menggunakan tenaga listrik dalam jarak pendek, terutama pada kecepatan rendah. Baterainya mendapatkan energi dari pengereman regeneratif dan tenaga mesin sehingga tidak perlu dicolokkan ke listrik PLN.
Toyota disebut menjadi salah satu merek yang terkenal dengan teknologi tersebut melalui model seperti Kijang Innova Zenix Hybrid dan Alphard Hybrid. Teknologi serupa juga dikembangkan sejumlah pabrikan lain.
Sementara itu, PHEV memiliki baterai lebih besar dan dapat diisi menggunakan sumber listrik eksternal. Mobil jenis ini mampu menempuh jarak lebih jauh dengan tenaga listrik, yang dalam pembahasan disebut sekitar 50 hingga 80 kilometer. Keuntungannya, penggunaan harian dengan jarak pendek berpotensi dilakukan tanpa menggunakan bensin. Namun, harga kendaraan menjadi yang paling tinggi dan penggunanya perlu rutin mengisi baterai agar manfaat teknologi tersebut maksimal.
Baca Juga: Regulasi Liga 1 2026 2027 Berubah, Klub Bisa Daftarkan 11 Pemain Asing
Hybrid atau Bensin?
Dari sisi konsumsi bahan bakar, hybrid dinilai memiliki keunggulan terutama ketika digunakan di dalam kota dengan kondisi stop and go. Dalam pembahasan disebutkan, konsumsi bahan bakar hybrid dapat lebih hemat sekitar 30 hingga 50 persen dibandingkan kondisi tertentu pada mobil konvensional.
Namun, mobil bensin masih unggul dari sisi kesederhanaan sistem dan harga pembelian. Mesin bensin murni lebih sederhana sehingga teknisi umum lebih familiar dengan perawatannya. Sebaliknya, hybrid memiliki komponen tambahan seperti inverter, baterai, dan motor listrik yang membutuhkan teknisi dengan kompetensi khusus.
Meski demikian, penggunaan mesin bensin yang lebih jarang pada hybrid dapat membuat beberapa komponen, seperti kampas rem dan oli, lebih awet. Kendaraan hybrid juga disebut berpotensi mendapatkan keringanan pajak kendaraan bermotor di sejumlah daerah.
Bagi konsumen yang menempuh perjalanan sekitar 15.000 hingga 20.000 kilometer per tahun dan lebih banyak menggunakan mobil di perkotaan, hybrid dapat menjadi pilihan yang menarik. Sebaliknya, mobil bensin masih layak dipertimbangkan jika anggaran pembelian terbatas, kendaraan lebih sering digunakan untuk perjalanan jauh di jalan tol, atau akses terhadap bengkel spesialis hybrid sulit.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah baterai. Dalam pembahasan, usia baterai hybrid disebut biasanya berada di kisaran delapan hingga 10 tahun dan biaya penggantiannya dapat mahal. Garansi pabrikan yang umumnya panjang dapat mengurangi kekhawatiran tersebut, tetapi kondisi baterai tetap menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli.
Di tengah perkembangan kendaraan listrik, hybrid justru disebut masih menjadi strategi penting sejumlah pabrikan. Toyota meningkatkan investasi kapasitas produksi hybrid, sedangkan Honda menyiapkan platform HEV generasi berikutnya yang lebih ringan dan modular. Produsen Tiongkok seperti BYD juga terus memperluas teknologi hybrid dan PHEV.
Dengan kombinasi efisiensi bahan bakar, kemampuan menggunakan mesin bensin, serta ketergantungan yang lebih rendah terhadap charging station, mobil hybrid menjadi salah satu opsi yang berada di antara kendaraan bensin konvensional dan mobil listrik murni.
Baca Juga: Tender Infrastruktur Dikebut 9 Paket Telah Masuk Lelang Masih Berpotensi Tambah
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest