TRENGGALEK NJENGGALEK- Alpha Entry Next Gen menjadi sorotan setelah digunakan selama satu minggu untuk aktivitas harian, termasuk perjalanan ke kantor sejauh 80 kilometer pulang-pergi. Motor listrik ini menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari aplikasi pintar, sistem keyless praktis, baterai LFP, hingga biaya sewa baterai yang menyesuaikan jarak pemakaian. Namun, hasil penggunaan langsung juga mengungkap beberapa kekurangan, seperti suspensi keras, bagasi terbatas, pengereman CBS yang terasa kasar, serta jarak tempuh yang belum mencukupi perjalanan pulang-pergi tanpa pengisian ulang bagi pengendara tertentu.
Kekurangan Alpha Entry Next Gen yang Dikeluhkan Pengguna
1. Suspensi Depan dan Belakang Terasa Keras
Kekurangan pertama yang disorot adalah suspensi depan dan belakang. Pengguna menilai keduanya terasa keras dan kurang nyaman ketika melewati jalanan tidak rata. Pengalaman tersebut disebut serupa dengan unit Alpha Entry generasi sebelumnya yang pernah dicoba.
Bahkan, dengan bobot pengendara sekitar 130 kilogram, suspensi belakang masih dirasakan kurang empuk. Kondisi ini dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen yang mengutamakan kenyamanan untuk perjalanan jauh.
2. Jok dan Dek Kurang Mengakomodasi Pengendara Bertubuh Besar
Bentuk jok Alpha Entry Next Gen dilengkapi tonjolan menyerupai penyangga pinggang atau lumbar support. Namun, fitur tersebut justru terasa mengganggu bagi pengendara dengan tinggi badan 171 sentimeter karena posisi duduk menjadi kurang leluasa dan memicu rasa pegal.
Ukuran dek juga dinilai pas-pasan untuk kaki berukuran 46. Ruang pijakan tersebut masih dapat digunakan untuk membawa tas berisi laptop, tetapi kurang praktis ketika membawa barang berukuran besar, seperti cucian seberat 9–10 kilogram.
3. Bagasi Terbatas dan Kecepatan Maksimum Bukan yang Tertinggi
Bentuk bodi yang relatif ramping berdampak pada kapasitas bagasi di bawah jok. Ruang penyimpanan masih cukup untuk beberapa perlengkapan, seperti kabel tambahan, sandal, dan jas hujan. Namun, charger berukuran besar, sepatu, maupun laptop tidak mudah dimasukkan bersamaan.
Dari sisi performa, kecepatan maksimum pada pengujian tanpa beban disebut sekitar 65 km/jam dalam mode Eco, 82 km/jam pada mode Urban, dan 93 km/jam pada mode Sport. Dalam penggunaan nyata, pengendara mencatat kecepatan sekitar 89 km/jam ketika melaju di jalan menurun.
Angka tersebut dinilai cukup untuk kebutuhan harian, tetapi penguji merasa tarikan motor masih kalah spontan dibandingkan Polytron Fox 350 yang menjadi salah satu pembandingnya.
4. Fitur dan Pengereman Masih Memiliki Catatan
Alpha Entry Next Gen belum memiliki jam pada panel instrumen maupun informasi jarak perjalanan atau trip meter secara langsung di speedometer. Motor juga tidak dibekali cruise control, meski fitur tersebut dinilai tidak terlalu penting untuk perjalanan yang sering menghadapi kemacetan.
Pengereman Combined Braking System (CBS) turut mendapat catatan karena hentakannya terasa kasar dan muncul bunyi ketika digunakan. Selain itu, pengendara merasakan getaran pada dinamo saat melaju mendekati kecepatan maksimum serta sensasi tersendat ketika menghadapi kemacetan atau tanjakan.
Konsumsi baterai juga menjadi perhatian. Dalam perjalanan kantor sejauh sekitar 80 kilometer pulang-pergi, baterai tersisa sekitar 48–49 persen setelah perjalanan satu arah, sehingga pengendara perlu mengisi ulang di kantor agar dapat melanjutkan perjalanan pulang.
Kelebihan Alpha Entry Next Gen yang Menarik Perhatian
5. Aplikasi Alpha Dinilai Sangat Fungsional
Salah satu keunggulan terbesar motor listrik ini adalah aplikasi Alpha. Pengguna dapat memantau proses pengisian baterai, memperkirakan waktu hingga penuh, serta mengatur daya charger sesuai kondisi listrik rumah.
Pengaturan daya dapat diturunkan hingga sekitar 280 watt. Fitur ini membantu pengguna yang memiliki daya listrik terbatas, meskipun waktu pengisian menjadi lebih lama.
Aplikasi juga mencatat perjalanan, jarak tempuh, dan penghematan, serta menyediakan fasilitas pemesanan servis. Dengan demikian, kekurangan informasi trip pada speedometer dapat diatasi melalui aplikasi.
6. Baterai LFP dan Pengalaman Berkendara Familiar
Alpha Entry Next Gen menggunakan baterai LFP berkapasitas sekitar 3,3 kWh atau 45 Ah. Penguji menilai teknologi baterai ini menjadi pembaruan menarik, meskipun daya tahan dan kualitas jangka panjangnya tetap perlu dibuktikan melalui pemakaian lebih lama.
Motor ini juga tidak memiliki fitur pemutus tenaga saat rem ditekan atau cut-off seperti yang ditemukan pada sejumlah motor listrik. Karakter tersebut membuat pengalaman berkendara terasa lebih mirip motor bensin bagi pengguna yang baru beralih ke kendaraan listrik.
7. Sistem Keyless dan Skema Sewa Baterai
Sistem keyless memungkinkan pengguna mengoperasikan motor, membuka jok, dan mengunci setang selama kunci berada dalam jangkauan. Pengendara tidak perlu terus-menerus memegang kunci fisik untuk menjalankan fungsi tersebut.
Daya tarik berikutnya adalah biaya sewa baterai yang disesuaikan dengan jarak pemakaian. Berdasarkan penjelasan dalam video, harga motor melalui skema ini sebesar Rp15,5 juta, dengan biaya berlangganan dasar Rp125.000 per bulan untuk pemakaian hingga 700 kilometer.
Untuk jarak 701–1.800 kilometer, total biaya bulanan disebut mencapai Rp200.000. Sementara itu, pemakaian lebih dari 1.800 kilometer dikenakan total sekitar Rp350.000 per bulan. Biaya pengisian listrik tetap menjadi tanggungan pengguna.
Skema ini memungkinkan konsumen menyesuaikan pengeluaran dengan kebutuhan perjalanan. Meski demikian, calon pembeli sebaiknya memeriksa kembali tarif dan ketentuan resmi sebelum bertransaksi.
Kesimpulan: Cocok untuk Pengguna yang Mengutamakan Teknologi
Alpha Entry Next Gen menawarkan aplikasi pintar, keyless praktis, dan skema sewa baterai fleksibel. Namun, suspensi keras, ruang penyimpanan terbatas, karakter pengereman, dan kebutuhan pengisian ulang menjadi sejumlah pertimbangan penting.
Motor ini dapat menarik bagi pengguna yang mengutamakan fitur digital dan perjalanan perkotaan. Sementara itu, konsumen yang sering menempuh jarak jauh sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan pengisian daya, kenyamanan suspensi, serta total biaya bulanan sebelum membeli.
Baca Juga: Subsidi Motor Listrik 2026 Rp5 Juta, Polytron hingga Honda EM1 e: Masuk Daftar Sorotan
Sumber : pinterest