Trenggaleknjenggelek – Indonesia berada di jalur cincin api Pasifik dengan 127 gunung api aktif. Kondisi ini menjadikan masyarakat di berbagai daerah rawan menghadapi gempa vulkanik yang bisa muncul sebelum letusan.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan menjelaskan, gempa vulkanik terjadi akibat pergerakan magma di dalam gunung. Getarannya bisa ringan, tetapi juga bisa menjadi awal aktivitas erupsi.
“Sering kali sebelum letusan, gunung api didahului dengan serangkaian gempa vulkanik. Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Di Trenggalek sendiri, wilayah Kecamatan Watulimo dan Panggul masuk kategori rawan terdampak jika aktivitas gunung api di sekitar selatan Jawa meningkat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mengimbau warga tetap memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan PVMBG.
“Panik justru berbahaya. Yang utama, tetap tenang, lindungi diri di tempat aman, dan siapkan tas siaga darurat. Kami juga sudah menyiapkan jalur evakuasi di daerah rawan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St. Triadi Atmono.
Tas darurat yang dimaksud berisi kebutuhan pokok seperti air, makanan ringan, obat-obatan, masker, hingga dokumen penting. Keberadaan tas ini terbukti membantu banyak warga saat terjadi erupsi Merapi maupun Semeru.
Selain itu, masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika terjadi hujan abu. Abu vulkanik bisa mengganggu pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
PVMBG menegaskan pentingnya masyarakat hanya mengikuti informasi resmi.
“Jangan mudah percaya kabar di media sosial. Hoaks sering menimbulkan kepanikan yang lebih besar daripada ancaman itu sendiri,” ujar Hendra.
Dengan pemahaman dan kesiapan yang baik, risiko bencana akibat gempa vulkanik dapat ditekan. Masyarakat di sekitar kawasan rawan diimbau untuk selalu waspada, tetapi tidak panik, serta mengikuti arahan petugas jika proses evakuasi diperlukan.(jaz)
Editor : Zaki Jazai