Trenggaleknjenggelek – Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, menegaskan pentingnya percepatan operasional Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG) di wilayah Jawa Timur. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah.
Penegasan tersebut disampaikan Khusnul usai menghadiri Sosialisasi dan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara SPPG dengan lembaga penerima manfaat. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti masih terbatasnya jumlah SPPG yang aktif beroperasi di Kediri.
“Informasi yang saya terima, di Jatim khususnya Kediri baru memiliki sekitar 25 SPPG yang beroperasi. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan anak sekolah, ibu hamil, dan balita, setidaknya dibutuhkan 125 SPPG sesuai target Badan Gizi Nasional (BGN),” ujar Khusnul di Surabaya.
Baca Juga: Tak Miliki Lahan Dapur Umum untuk Program MBG, Pemkab Trenggalek Bakal Manfaatkan Gedung Sekolah
Dengan populasi Kabupaten Kediri yang mencapai 1,6 juta jiwa dan Kota Kediri sekitar 300 ribu jiwa, ia menilai keberadaan 25 SPPG masih jauh dari ideal. Menurutnya, kondisi ini harus segera diatasi agar manfaat program MBG bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Politisi asal Kediri ini mengaku berkomitmen untuk mengawal percepatan pembentukan dan operasional SPPG. Namun, ia juga realistis bahwa proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan. Hal ini karena mitra penyelenggara SPPG membutuhkan waktu untuk membangun fasilitas sesuai standar yang ditetapkan oleh BGN.
“Menuju target 125 SPPG tentu ada tahapan. Dari informasi yang saya peroleh, hampir semua kecamatan di Kediri sudah penuh kuotanya, artinya banyak yang sedang berproses,” jelasnya.
Baca Juga: Mas Ipin Ungkap Kesiapan Program Makan Bergizi Gratis, Trenggalek Miliki 5 Dapur MBG
Dalam kegiatan sosialisasi di Gurah, dua SPPG menandatangani MoU, yakni SPPG Wonojoyo yang menggandeng 27 lembaga penerima manfaat dan SPPG Gabru dengan 24 lembaga. Keduanya dijadwalkan mulai beroperasi pada awal September mendatang.
“Di Kecamatan Gurah saat ini belum ada SPPG yang berjalan. Insyaallah, awal September nanti dua SPPG ini akan beroperasi,” tutur Khusnul.
Baca Juga: Mas Ipin Soroti Keterbatasan Daerah dalam Pelaksanaan Program MBG
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program MBG tidak boleh dipahami sekadar sebagai distribusi makanan, melainkan sebagai upaya nyata untuk memperbaiki status gizi masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus menurunkan angka stunting di Jawa Timur.
“Anak-anak yang bergizi baik akan lebih sehat, bersemangat belajar, dan prestasinya meningkat. Ini adalah investasi besar untuk masa depan,” tegasnya.
Khusnul juga mengingatkan bahwa keberhasilan program MBG tidak bisa hanya ditopang oleh pemerintah. Perlu adanya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, hingga sektor swasta agar manfaat program dapat dirasakan secara menyeluruh.(Jaz)
Editor : Zaki Jazai