Kabinet Bayangan Serukan Mahasiswa Tak Bergerak Sendirian, Akademisi Diminta Turun Tangan

Putri Dwi Lestari • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:02 WIB
Kabinet bayangan menyerukan mahasiswa tak bergerak sendirian. Akademisi, ulama, dan tokoh publik diminta ikut mengawal kebijakan pemerintah. (ILUSTRASI AI)
Kabinet bayangan menyerukan mahasiswa tak bergerak sendirian. Akademisi, ulama, dan tokoh publik diminta ikut mengawal kebijakan pemerintah. (ILUSTRASI AI)

RADAR TRENGGALEK- Menteri Perekonomian Kabinet Bayangan Media Wahyudi Askar, menyerukan agar perjuangan mengawal kebijakan pemerintah tidak hanya dibebankan kepada mahasiswa. Ia mendorong keterlibatan kelompok intelektual dan masyarakat sipil, mulai dari dosen, profesor, ulama, hingga tokoh publik, agar suara kritis terhadap pemerintah memiliki kekuatan lebih besar.

Menurut Wahyudi, mahasiswa selama ini kerap menjadi kelompok yang berada di garis depan ketika menyuarakan keresahan publik. Namun, risiko dari gerakan tersebut dinilai tidak seharusnya ditanggung mahasiswa seorang diri. Kelompok masyarakat lain yang memiliki kapasitas intelektual dan sosial juga dinilai perlu mengambil peran.

Dorongan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap sikap pasif sebagian kelas menengah dan kelompok terdidik. Mereka dinilai cenderung menikmati hasil perjuangan mahasiswa, tetapi enggan mengambil risiko yang sama ketika perubahan diperjuangkan.

Sikap pasif itu, menurut Wahyudi, justru dapat memperlambat dorongan perubahan sekaligus memberikan keuntungan bagi kelompok elite yang berada dalam lingkaran kekuasaan.

Baca Juga: Ketakutan Terbesar Prabowo Terungkap? Reshuffle Kabinet Disebut Bukan Soal Kinerja, Tapi Menjaga Kekuasaan Tetap Aman

Wahyudi juga mendorong kalangan akademisi untuk tidak berhenti pada ruang kampus. Menurut dia, kaum intelektual perlu mentransfer pengetahuan dan taktik gerakan sipil secara langsung kepada masyarakat.

Langkah tersebut dipandang penting untuk membangun simpul-simpul pergerakan yang lebih luas. Gerakan masyarakat tidak harus menunggu hadirnya kelompok besar untuk dapat menghasilkan perubahan.

Dalam pandangan Wahyudi, sejarah perjuangan nasional menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kelompok kecil yang konsisten bergerak. Karena itu, pembentukan simpul pergerakan masyarakat menjadi salah satu hal yang dinilai penting untuk memperkuat gerakan sipil.

Keterlibatan kelompok intelektual juga diharapkan dapat membuat gerakan masyarakat tidak hanya bersifat spontan. Pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan membaca persoalan dapat ditransfer kepada masyarakat agar perjuangan memiliki arah yang lebih kuat.

Ia menilai keterlibatan tersebut bukan semata-mata bertujuan untuk berhadapan dengan pemerintah. Gerakan sipil justru diarahkan untuk memperkuat kelompok masyarakat yang lemah dan mendorong perbaikan negara melalui jalur konstitusional.

Baca Juga: Bocor Alus: Strategi Prabowo Redam Gejolak Buruh Lewat Reshuffle, Jumhur Hidayat Masuk Kabinet Demi Amankan Momentum May Day?

Seruan utama Wahyudi adalah agar mahasiswa tidak dibiarkan menghadapi berbagai risiko perjuangan seorang diri. Kelompok masyarakat yang memiliki ruang dan kapasitas untuk bersuara dinilai perlu ikut mengambil bagian.

Dosen, profesor, ulama, tokoh publik, serta kelompok intelektual lainnya dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkuat pesan yang disampaikan mahasiswa. Keterlibatan mereka juga dapat memperluas dukungan masyarakat terhadap isu yang sedang diperjuangkan.

Sorotan terhadap apatisme kelas menengah dan kaum terdidik menjadi bagian penting dalam pembahasan tersebut. Kelompok yang memiliki pendidikan dan akses informasi, tetapi memilih bersikap pasif, dinilai turut berpengaruh terhadap lambatnya perubahan.

Karena itu, kabinet bayangan mendorong agar gerakan masyarakat dibangun melalui keterlibatan berbagai kelompok, bukan hanya mengandalkan mahasiswa sebagai motor utama.

Pada akhirnya, keterlibatan politik yang didorong Wahyudi diarahkan untuk memperkuat kelompok yang lemah sekaligus mendorong perbaikan negara secara konstitusional. Dengan semakin banyak kelompok masyarakat mengambil peran, perjuangan mengawal kebijakan pemerintah diharapkan tidak lagi menjadi beban satu kelompok saja.

Seruan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun gerakan sipil yang konsisten. Perubahan, sebagaimana gagasan yang disampaikan dalam pembahasan itu, tidak selalu harus dimulai dari jumlah massa yang besar. Kelompok kecil yang terus bergerak dan membangun simpul masyarakat juga dapat menjadi awal dari dorongan perubahan yang lebih luas.

Editor : Putri Dwi Lestari
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Kabinet Bayangan Wahyudi Askar Gerakan Sipil Akademisi mahasiswa