Kabinet Bayangan Dibentuk, Feri Amsari Ungkap Alasan Tidak Ada Presidennya

Putri Dwi Lestari • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:40 WIB
Kabinet bayangan berisi 15 menteri. Feri Amsari mengungkap alasan kelompok ini tak memiliki presiden dan ingin menjadi pengimbang pemerintah. (PINTEREST)
Kabinet bayangan berisi 15 menteri. Feri Amsari mengungkap alasan kelompok ini tak memiliki presiden dan ingin menjadi pengimbang pemerintah. (PINTEREST)

RADAR TRENGGALEK - Kabinet bayangan dibentuk dengan 15 menteri untuk menjadi counterpart atau pasangan pengimbang para menteri pemerintah. Kelompok yang diinisiasi dari keresahan sejumlah orang yang mempelajari hukum tata negara itu tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemerintahan, melainkan menjadi ruang kritik, pengawasan, dan penyusunan alternatif kebijakan berbasis data.

Salah satu penggagasnya yaitu Feri Amsari selaku Guru Pendidikan Tinggi, menjelaskan gagasan kabinet bayangan muncul setelah melihat apa yang dinilainya sebagai semakin kuatnya sistem parlementer dalam praktik pemerintahan presidensial.

Menurut Feri, pencampuran peran antara eksekutif dan parlemen menjadi salah satu keresahan yang mendorong munculnya gagasan tersebut. Dari situ, ia dan rekan-rekannya kemudian memikirkan konsep kabinet bayangan yang lazim dikenal dalam sistem pemerintahan parlementer.

Dalam konsep itu, setiap menteri pemerintah memiliki pasangan dari kabinet bayangan. Keduanya dapat beradu gagasan dan membahas program secara terbuka.

Feri menilai mekanisme tersebut dapat menjadi cara untuk memperlihatkan kepada publik kualitas orang yang dipercaya menjalankan jabatan pemerintahan.

“Kalau ada menteri yang tidak mumpuni bisa habis dan dipermalukan di depan publik,” kata Feri dalam perbincangan tersebut.

Menurut dia, seorang menteri tidak cukup hanya pintar. Pejabat juga harus mampu menjelaskan gagasan sekaligus menerangkan bagaimana gagasan tersebut akan diterapkan.

Baca Juga: Kenaikan Gaji Pensiunan 2026 Benarkah Janji Presiden Terbukti? Ini Penjelasan PT Taspen soal Rapel Agustus

Meski menggunakan struktur yang menyerupai kabinet, kelompok tersebut belum menunjuk presiden kabinet bayangan. Posisi tertinggi juga tidak ditetapkan di antara 15 orang yang ada.

Feri menjelaskan keputusan itu diambil untuk menghindari kontroversi. Penunjukan sosok tertentu sebagai pemimpin kabinet bayangan dinilai bisa menimbulkan kesan bahwa kelompok tersebut sedang mendaulat seseorang sebagai presiden.

Selain itu, kelompok tersebut tidak ingin kehadirannya dipersepsikan sebagai gerakan untuk menyerang Presiden Prabowo.

“ Kita mau Pak Prabowo baik bekerjanya,” ujar Feri.

Ia mengatakan tujuan kabinet bayangan justru ingin mendorong Presiden bekerja lebih baik melalui dukungan orang-orang yang dinilai mumpuni di lingkaran pemerintahan.

Feri juga menegaskan kabinet bayangan tidak bermaksud mengubah sistem pemerintahan Indonesia. Jika sistem presidensial tetap digunakan, menurutnya sistem tersebut perlu dijalankan secara konsekuen.

Ia menyebut kabinet bayangan sebagai bentuk improvisasi gerakan politik yang dapat digunakan untuk menyampaikan kritik. Kritik yang diberikan, kata dia, diharapkan bersifat konstruktif dan berbasis data serta fakta lapangan.

Baca Juga: Dinilai Rentan Intervensi dan Melanggar Aturan, Kondisi Bank Mandiri Dipertanyakan Publik

Selain mengkritisi kebijakan, kabinet bayangan juga memiliki sejumlah rencana untuk melibatkan masyarakat. Salah satunya melalui konsep debat yang memungkinkan publik mengetahui perbedaan gagasan dari dua sisi.

Feri mengakui para menteri pemerintah belum tentu bersedia hadir dalam forum debat tersebut. Karena itu, publik nantinya dapat mengambil peran untuk menyuarakan persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi.

Kabinet bayangan juga membuka kemungkinan menggunakan crowdfunding untuk persoalan tertentu. Contohnya, ketika terdapat jembatan atau sekolah yang rusak, penggalangan dana sukarela dapat dilakukan dengan anggaran yang terbuka kepada publik.

Gagasan serupa juga diarahkan untuk membantu kelompok yang dinilai membutuhkan perhatian, termasuk guru honorer yang telah lama mengabdi.

Namun, bantuan yang dibayangkan tidak selalu dalam bentuk uang tunai. Feri menyebut kebutuhan seperti rumah layak atau kendaraan dapat menjadi bentuk bantuan yang dipertimbangkan agar perubahan kondisi penerima benar-benar dirasakan.

Di sisi lain, Feri mengatakan kabinet bayangan tetap ingin mendapat masukan dari tokoh senior. Kelompok yang beranggotakan anak-anak muda itu berencana bertemu guru dan tokoh bangsa untuk mendapatkan arahan.

Langkah tersebut dinilai penting agar energi dan kritik anak muda tetap memiliki batas serta tidak keluar dari tujuan awal pembentukan kabinet bayangan.

Pada akhirnya, Feri menegaskan keberadaan kelompok tersebut diarahkan untuk kepentingan publik. Kabinet bayangan diharapkan menjadi ruang bagi kritik, gagasan alternatif, dan keterlibatan masyarakat ketika pemerintah dinilai membutuhkan pengawasan dari luar.

Editor : Putri Dwi Lestari
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Feri Amsari Kabinet Bayangan Check and Balance pemerintahan Prabowo Subianto