Trenggaleknjenggelek - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menegaskan bahwa melarang kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan bukanlah solusi yang tepat.
Ia menilai bahwa AI adalah bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari, tetapi perlu diatur dengan bijak agar tidak menghilangkan esensi pendidikan.
"Zaman terus melaju. Gelombang teknologi tak bisa dibendung. AI bukan sekadar datang mengetuk pintu ruang kelas, tapi sudah mulai melangkah masuk. Kita tidak bisa berpaling. Kita pun tak boleh tertinggal," ujar Anies melalui akun X, Sabtu (29/3).
Menurutnya, anak-anak Indonesia berhak mendapatkan literasi digital dan kecakapan teknologi terbaru.
Namun, di saat yang sama, mereka juga harus tetap berkembang sebagai individu yang memiliki pemikiran kritis, empati, dan karakter kuat.
Anies menolak pandangan bahwa sekolah hanya menjadi "pabrik jawaban" tanpa membangun daya pikir dan kreativitas siswa.
Ia mengingatkan bahwa AI dapat membantu dalam banyak aspek, seperti menulis esai dan merangkum buku, tetapi penggunaannya tanpa kendali yang jelas dapat mengikis kemandirian berpikir siswa.
"Sekolah bukan pabrik jawaban. Ia adalah taman akal dan budi. Di sanalah anak-anak belajar mengenal tanya, bukan hanya menjawab; belajar mendengar, bukan hanya bicara; belajar berpikir mendalam, bukan sekadar mengulang fakta," lanjutnya.
Anies juga mengutip Albert Einstein: "The human spirit must prevail over technology," sebagai pengingat bahwa teknologi seharusnya tidak menggantikan sisi kemanusiaan dalam pendidikan.
Ia pun menekankan perlunya regulasi dan diskusi bersama untuk mengatur pemanfaatan AI di sekolah.
Menurutnya, larangan total bukan solusi, tetapi kebebasan tanpa batas juga bukan jalan keluar.
"Karena itu, kita butuh aturan dan panduan. Bukan untuk membatasi zaman, tapi untuk menjaga arah. Perlu diskusi jujur: sejauh mana AI boleh hadir di kelas? Apa batas wajar penggunaannya? Dan apa yang justru harus dijaga tetap dilakukan manusia?" ujarnya.
Anies mengajak semua pihak—guru, orang tua, murid, pakar, dan pemerintah—untuk berdialog agar AI dapat dimanfaatkan secara tepat dalam dunia pendidikan.
"Masa depan harus kita sambut dengan optimisme. Tapi jangan lepas kendali. Pendidikan harus tetap berpijak pada manusia, bukan mesin. Sebab teknologi hanya hebat, jika ia tetap tahu tempat," tutupnya. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri