Trenggaleknjenggelek - Di balik kesuksesan Film Bidaah, muncul pertanyaan kritis, Apa hubungan Walid dengan Dewi? sosok remaja rapuh dalam cerita yang merepresentasikan bentuk pelecehan terhadap perempuan yang dinormalisasi atas dasar ketaatan?
“Walid Nak Dewi boleh”. Kalimat ini tak hanya viral karena konteksnya yang dramatis, tetapi juga menimbulkan kegelisahan kolektif tentang bagaimana perempuan digambarkan dan diperlakukan dalam narasi spiritual yang menyimpang.
Tokoh Walid, pemimpin karismatik kelompok Jihad Ummah, menjadi pusat dari dinamika relasi kuasa dalam cerita.
Ia bukan hanya pemuka agama fiktif, tetapi juga simbol bagaimana seseorang bisa menyalahgunakan kharisma dan otoritas keagamaan untuk mengendalikan orang lain khususnya perempuan muda yang rentan keimanannya.
Salah satu jemaahnya, Dewi, digambarkan sebagai remaja dari keluarga broken home yang mencari makna hidup dan tempat berlindung, serta mendambakan figur ayah.
Tokoh Walid hadir sebagai penyelamat, sampai pada titik ketika bimbingan spiritual bergeser menjadi kontrol emosional dan eksploitasi psikologis.
Dewi: Korban yang Dianggap Rela
Di mata banyak penonton, Dewi tampak seperti “rela” dalam keterikatannya dengan Walid. Namun disinilah jebakan naratif muncul kerelaan yang dibentuk dalam tekanan relasi bukanlah persetujuan sejati.
Kalimat “Walid nak Dewi boleh” menggambarkan dengan gamblang bagaimana sebuah relasi manipulatif bisa dibungkus seolah-olah sebagai kesepakatan spiritual.
Fenomena ini menggugah tanya, sampai sejauh mana agama bisa digunakan sebagai tameng untuk melegitimasi eksploitasi? Apakah penggambaran hubungan ini sedang membuka mata, atau justru menormalisasi?
Di satu sisi, Bidaah berhasil menampilkan kompleksitas relasi dalam komunitas tertutup. Namun di sisi lain, beberapa kalangan mengkritik bahwa drama ini kurang memberi ruang pada pemulihan korban dan terlalu fokus pada sosok pelaku yang karismatik. Kekhawatiran atas simpati penonton yang justru condong ke sisi yang salah.
Antara Narasi dan Tanggung Jawab
Ketika seni mengangkat realitas gelap, ia memikul tanggung jawab etis. Kalimat "Walid nak Dewi boleh" mungkin bukan sekadar cuplikan dialog.
Tetapi refleksi dari relasi timpang yang masih sering terjadi di dunia nyata, di mana perempuan yang rentan menjadi korban atas nama ketaatan.
Maka, pertanyaannya bukan hanya apa yang ditampilkan, tetapi untuk siapa narasi itu berpihak. (sun)