Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perempuan dan Teknologi, Meneruskan Semangat Kartini di Dunia Digital

Mahsun Nidhom • Minggu, 20 April 2025 | 13:00 WIB
Kartini hari ini bisa saja pegang keyboard bukan pena.
Kartini hari ini bisa saja pegang keyboard bukan pena.

Trenggaleknjenggelek - Kalau Kartini hidup di zaman sekarang, mungkin dia bukan sekadar menulis surat tapi ngoding, bikin platform edukasi, atau jadi CTO startup sosial.

Kenapa tidak? Toh semangatnya tetap sama: mencerdaskan, memajukan, dan membuka jalan.

Tanggal 21 April besok, perjuangan Kartini punya bentuk baru. Perempuan bukan lagi hanya bicara soal akses sekolah, tapi juga ruang kerja digital, algoritma, AI, hingga big data.

Dan menjadi programmer? Itu adalah salah satu medan juangnya yang paling menjanjikan.

Baca Juga: Android 16 Segera Tiba: Beta Test Terakhir Akhirnya Dirilis

Bagaimana Jika Perempuan Menjadi Programmer?

Jawabannya, dunia akan lebih kaya perspektif. Coding bukan cuma soal logika dan bahasa mesin, tapi juga soal empati, desain solusi, dan sensitivitas terhadap kebutuhan pengguna.

Perempuan membawa cara pandang unik dalam membangun teknologi dan itu memang dibutuhkan.

Lihat saja para developer perempuan yang kini membangun aplikasi kesehatan mental, mendesain UX untuk ibu bekerja, atau menciptakan platform finansial ramah perempuan.

Semua itu lahir dari pengalaman hidup yang hanya bisa dimiliki dan dipahami oleh mereka yang pernah menjalaninya.

Baca Juga: Filter Selfie vs Realita: Dampak Teknologi pada Kesehatan Mental Remaja Perempuan

Dari Kartini ke Keyboard

Menjadi programmer bukan berarti meninggalkan kodrat, tapi justru memperluas medan kontribusi.

Dengan laptop di pangkuan, perempuan bisa membangun jembatan digital antara mimpi dan kenyataan.

Mulai dari yang kecil misalnya belajar HTML, coba Python, gabung komunitas coding perempuan seperti FemaleDev, Girls in Tech, atau Women Who Code.

Dan kalau kamu berpikir dunia coding itu dingin dan maskulin, ingat, WiFi ditemukan berkat Hedy Lamarr, seorang aktris perempuan.

Baca Juga: BPBD Trenggalek Himbau Warga Tetap Waspada Potensi Bencana Tanah Longsor Saat Musim Hujan

Jadi, kenapa kamu nggak bisa bikin revolusi dari belakang layar monitor?

Perempuan + Teknologi = Masa Depan

Dunia digital adalah panggung baru, dan perempuan harus berdiri di tengah-tengahnya. Menjadi programmer bukan hanya soal karier, tapi juga soal membangun masa depan yang inklusif. (sun)

FOKUS: Anggota Komunitas Sketsa Pulang Kerja saat menggambar dan berkumbul bersama setiap Rabu.
FOKUS: Anggota Komunitas Sketsa Pulang Kerja saat menggambar dan berkumbul bersama setiap Rabu.
Editor : Mahsun Nidhom
#kartini #programer #21 April #digital