Trenggaleknjenggelek - Kalau Kartini hidup di zaman sekarang, mungkin dia bukan sekadar menulis surat—tapi ngoding, bikin platform edukasi, atau jadi CTO startup sosial.
Kenapa tidak? Toh semangatnya tetap sama mencerdaskan, memajukan, dan membuka jalan.
Esok hari 21 April, perjuangan Kartini punya bentuk baru. Perempuan bukan lagi hanya bicara soal akses sekolah, tapi juga ruang kerja digital, algoritma, AI, hingga big data.
Dan menjadi programmer? Itu adalah salah satu medan juangnya yang paling menjanjikan.
Bagaimana Jika Perempuan Menjadi Programmer?
Jawabannya: dunia akan lebih kaya perspektif. Coding bukan cuma soal logika dan bahasa mesin, tapi juga soal empati, desain solusi, dan sensitivitas terhadap kebutuhan pengguna. Perempuan membawa cara pandang unik dalam membangun teknologi dan itu dibutuhkan.
Lihat saja para developer perempuan yang kini membangun aplikasi kesehatan mental, mendesain UX untuk ibu bekerja, atau menciptakan platform finansial ramah perempuan.
Semua itu lahir dari pengalaman hidup yang hanya bisa dimiliki dan dipahami oleh mereka yang pernah menjalaninya.
Dari Kartini ke Keyboard
Menjadi programmer bukan berarti meninggalkan kodrat, tapi justru memperluas medan kontribusi.
Dengan laptop di pangkuan, perempuan bisa membangun jembatan digital antara mimpi dan kenyataan.
Mulai dari yang kecil, belajar HTML, coba Python, gabung komunitas coding perempuan seperti FemaleDev, Girls in Tech, atau Women Who Code.
Dan kalau kamu berpikir dunia coding itu dingin dan maskulin, ingat, Wi-Fi ditemukan berkat Hedy Lamarr, seorang aktris perempuan. Jadi, kenapa kamu nggak bisa bikin revolusi dari belakang layar monitor?
Perempuan + Teknologi = Masa Depan
Dunia digital adalah panggung baru, dan perempuan harus berdiri di tengah-tengahnya. Menjadi programmer bukan hanya soal karier, tapi juga soal membangun masa depan yang inklusif. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom