Trenggaleknjenggelek - Nama Gus Dur tidak hanya lekat dengan pluralisme, demokrasi, dan toleransi, tetapi juga dengan cara beliau memperlakukan manusia secara utuh.
Bukan sekadar identitas agama, suku, atau status sosial, namun sebagai pribadi yang layak didengar, dihargai, dan diperlakukan dengan hormat. Di tengah gemuruh zaman yang sering memecah belah atas nama ideologi dan mayoritas, kehadiran Gus Dur ibarat oase yang menyejukkan semangat kemanusiaan.
Menerima Dulu, Bicara Kemudian
Salah satu prinsip mendasar yang selalu dipegang oleh Gus Dur adalah “menerima dan memahami.” Prinsip ini bukan sekadar jargon, melainkan laku hidup yang beliau jalani dengan konsisten. Beliau tidak memulai relasi dengan menasihati, melainkan dengan mendengarkan. Tidak sibuk memberi label, melainkan membuka ruang untuk dialog.
Tak heran jika Gus Dur disambut hangat oleh berbagai kalangan, dari pesantren sampai gereja, dari dusun hingga gedung parlemen. Karena beliau hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mendengarkan dengan tulus.
Seperti yang pernah beliau lontarkan dengan santai namun penuh makna “Gitu aja kok repot.” Kalimat ini bukan sekadar lelucon, melainkan bentuk dari kesadaran bahwa banyak konflik sosial bisa selesai jika kita memulainya dengan kesediaan untuk menerima perbedaan.
Membaur Tanpa Menyeragamkan
Indonesia bukanlah negara satu warna. Ia mozaik dari ratusan etnis, bahasa, adat, dan keyakinan. Dan Gus Dur memahami itu lebih dari siapa pun. Beliau tidak pernah memaksakan keseragaman. Justru, beliau membaur tanpa pernah kehilangan prinsip.
Ketika banyak tokoh politik hanya bermain aman dengan suara mayoritas, Gus Dur berani tampil membela kelompok yang kerap disudutkan. Komunitas Tionghoa, Ahmadiyah, kelompok difabel, hingga orang-orang Papua—semua pernah merasakan tangan hangat beliau. Bukan karena agenda politik, tetapi karena beliau melihat manusia di balik stigma.
Dalam banyak forum, Gus Dur dengan lugas mengatakan, “Saya tidak membela kelompok ini karena mereka benar. Saya membela karena mereka manusia.”
Menghargai, Bahkan Sebelum Disetujui
Dalam dunia yang kian gaduh oleh perdebatan dan ego sektarian, Gus Dur menunjukkan bahwa berbeda bukan alasan untuk bermusuhan. Beliau bisa saja tidak sepakat dengan lawan bicaranya, tapi tetap menghormatinya sebagai sesama. Itulah adab kemanusiaan.
Beliau tidak membalas caci maki dengan kemarahan, tetapi dengan lelucon. Tidak menjawab kritik dengan blokade, tetapi dengan senyuman. Di sinilah letak kekuatan beliau yang sejati: menang tanpa harus mengalahkan.
Baca Juga: Kisah Hakim Perempuan Dian Nur Pratiwi, Sempat Digoda Uang dan Dapat Ancaman
Agama untuk Membebaskan, Bukan Membelenggu
Bagi Gus Dur, keberagamaan tidak boleh memenjarakan martabat manusia. Beliau tidak pernah melihat agama sebagai alat pemisah, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur antarsesama.
Oleh karena itu, ketika ada yang menggunakan agama untuk mendiskriminasi, Gus Dur tidak ragu untuk berdiri di sisi yang dianggap "berbahaya."
“Kalau agama membuatmu membenci orang lain, maka yang salah bukan orangnya, tapi cara kamu memahami agama itu,” begitu kira-kira pesan yang selalu beliau bawa.
Gus Dur, Sosok yang Tidak Pernah Repot untuk Memanusiakan Manusia
Gus Dur mengajarkan kita bahwa jalan tengah dalam keberagaman bukanlah kompromi nilai, tetapi keberanian untuk mengutamakan kemanusiaan. Di tengah dunia yang makin suka menghakimi, Gus Dur memilih untuk memahami. Ketika dunia membangun tembok, beliau membuka pintu.
Dan semua itu dilakukan dengan prinsip yang sederhana, senyum yang tulus, dan lelucon yang mengendap “Gitu aja kok repot.” (sun)