Trenggaleknjenggelek— Arca Durga menjadi salah satu warisan budaya Nusantara yang kaya makna dan keunikan artistik. Berasal dari pengaruh Hindu di masa klasik Indonesia, Arca Durga kerap ditemukan di berbagai situs arkeologi, khususnya di Jawa dan Bali, dengan ciri-ciri khas yang membedakannya dari arca lainnya.
Salah satu ciri utama Arca Durga adalah penggambaran sosok dewi yang berdiri gagah di atas seekor mahkluk, biasanya kerbau, yang melambangkan iblis Mahisasura. Sikap ini menggambarkan kemenangan Durga atas kekuatan jahat, menjadikan arca tersebut simbol keperkasaan dan perlindungan dewi perang.
Arca Durga umumnya memiliki banyak tangan, antara empat hingga delapan, yang masing-masing memegang senjata atau atribut sakral seperti cakra (roda), gada (pentung), panah, atau pedang. Atribut-atribut ini menegaskan peran Durga sebagai dewi perang dan pelindung dari kejahatan.
Ciri lainnya adalah ekspresi wajah Durga yang tegas namun tetap anggun, mencerminkan keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan. Pada beberapa arca, Durga digambarkan mengenakan mahkota tinggi dan perhiasan mewah, menegaskan statusnya sebagai dewi agung.
Secara artistik, Arca Durga biasanya diukir dengan detail yang halus dan proporsi tubuh yang ideal, mencerminkan tingkat kemajuan seni pahat pada zamannya. Beberapa arca juga memperlihatkan relief kecil di sekelilingnya yang menggambarkan pertempuran dengan Mahisasura.
Keberadaan Arca Durga di Indonesia menjadi bukti nyata akulturasi budaya India dengan tradisi lokal. Tak hanya menjadi objek keagamaan, arca ini juga menjadi saksi sejarah perkembangan peradaban Nusantara.
Hari ini, Arca Durga masih dapat ditemui di museum-museum nasional maupun situs candi, mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dekat jejak keagungan budaya masa lampau.(jaz)