Trenggaleknjenggelek – Dalam khazanah peninggalan seni dan budaya Hindu, arca Durga kerap dijumpai di berbagai candi di Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Namun, tak semua arca Durga menggambarkan sosok yang sama. Salah satu bentuk paling ikonik adalah arca Durga Mahisasuramardini yang menampilkan sang dewi dalam perannya sebagai pembinasa raksasa kerbau, Mahisasura.
Sementara arca Durga biasa menampilkan Durga dalam bentuk yang lebih umum, perbedaan utama dari kedua jenis arca ini terletak pada ikonografi dan perannya dalam kisah mitologi ibu ilahi.
Durga Mahisasuramardini: Simbol Kemenangan Kebaikan atas Kejahatan
Arca Durga Mahisasuramardini menggambarkan Durga dengan 8 atau lebih tangan yang masing-masing memegang senjata pemberian para dewa. Ia tengah menginjak Mahisa, raksasa berwujud kerbau, dalam adegan yang menggambarkan klimaks pertarungan antara kekuatan kebaikan dan kejahatan.
Baca Juga: Ciri Khas Arca Durga pada Masa Kadiri dengan Tangan-Tangan yang Bawa Senjata
Sehingga arca durga mahisasuramardini memiliki makna spiritual yang sangat kuat. Ia bukan hanya simbol kekuatan, tapi juga perlambang keberanian dan perlindungan.
Arca semacam ini banyak ditemukan di situs-situs candi besar seperti Candi Mendut dan Candi Sambisari, serta beberapa candi di Bali. Dalam perayaan keagamaan Hindu seperti Durga Puja dan Dashain, sosok Durga Mahisasuramardini menjadi fokus utama pemujaan.
Durga Biasa: Representasi Dewi yang Lembut namun Perkasa
Berbeda dengan Mahisasuramardini, arca Durga biasa digambarkan dengan tangan yang lebih sedikit, biasanya dua atau empat, dan memegang senjata seperti tombak, pisau, atau gada. Sosok ini lebih menggambarkan peran Durga sebagai istri Dewa Siwa dan ibu pelindung semesta.
Baca Juga: Mengenal Ciri Khas Arca Durga, Simbol Keperkasaan Dewi Perang
Sehingga bisa dikatakan, ikonografi Durga biasa lebih sederhana dan tidak menggambarkan narasi mitologis tertentu. Arca-arca ini lebih menekankan pada aspek pemeliharaan dan kekuatan perempuan.
Beberapa arca Durga biasa ditemukan di kawasan Jawa Timur, termasuk di Tulungagung dan wilayah-wilayah yang dahulu menjadi pusat peradaban Hindu.
Refleksi Budaya dan Religiusitas Nusantara
Kehadiran dua bentuk arca ini menunjukkan kekayaan tafsir dan peran Dewi Durga dalam kebudayaan Hindu. Durga Mahisasuramardini menekankan aspek heroik dan pelindung, sedangkan Durga biasa mengangkat sisi maternal dan spiritual dari dewi yang sama.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Arca Durga Mahisasuramardini, Disparbud Dorong Realisasi Museum di Trenggalek
Dari situ membuktikan bahwa budaya Nusantara tidak hanya menerima pengaruh Hindu, tetapi juga mengolah dan memaknai ulang dalam konteks lokal.
Melalui arca-arca ini, masyarakat dapat mengenali bahwa dalam sejarah spiritualitas dan seni di Indonesia, kekuatan perempuan tidak hanya diwakili oleh kelembutan, tetapi juga oleh keberanian dan daya juang.(jaz)