Trenggaleknjenggelek – Di balik megahnya candi-candi peninggalan Hindu di Indonesia, berdiri anggun sosok dewi yang mewujud dalam batu: Dewi Durga. Dikenal sebagai pasangan Dewa Siwa, Durga bukan sekadar simbol kecantikan dan kekuatan, tapi juga pelindung semesta dan penakluk kejahatan. Arca-arca Durga tersebar di berbagai wilayah Nusantara, terutama di Jawa dan Bali. Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang mengungkap sisi berbeda dari sang dewi.
Meski banyak ditemukan, baru beberapa arca Durga yang tercatat resmi dalam sistem registrasi nasional cagar budaya milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari yang bersikap tenang hingga gagah menaklukkan raksasa, berikut ini ragam arca Durga yang telah didaftarkan dan karakteristiknya:
1. Arca Durga (Umum)
Arca ini menggambarkan Durga dalam wujud umum sebagai dewi yang berdiri (sthana) dengan empat tangan. Salah satu tangan memegang camara, dan tangan lainnya membawa tasbih (aksamala). Arca ini mengenakan mahkota (kiritamakuta), kalung, selempang, serta praba di belakang tubuhnya. Meski tubuh bagian bawah dan tangan depan rusak, kehadiran arca ini menunjukkan representasi Durga sebagai sosok lembut sekaligus sakral.
2. Arca Durga Mahisasuramardhini BG 67
Menampilkan Durga dengan delapan tangan, arca ini menjadi gambaran khas perannya sebagai Mahisasuramardini—penakluk raksasa Mahisa. Keempat tangan kanan memegang cakra, bunga padma, dan ekor kerbau. Tangan kiri memegang sangkha, bunga padma, serta menjambak rambut asura. Durga berdiri gagah dalam sikap tribhanga di atas kerbau yang terbaring, wajahnya tetap menenangkan meski dalam adegan pertempuran.
3. Arca Durga Mahisasuramardini
Dalam arca ini, Durga berdiri dalam sikap abhangga. Disampingnya terdapat tokoh penyerta yang bersimpuh, sementara kerbau digambarkan dengan posisi kaki terlipat dan kepala menoleh ke belakang. Atribut senjatanya sebagian telah aus, namun masih tampak cakra dan camara. Nuansa spiritual arca ini tetap kuat meski kondisi fisiknya tak lagi utuh.
4. Arca Durga Mahesasuramardini
Arca ini memperlihatkan Durga berdiri di atas Mahisa dengan delapan tangan, dua di antaranya memegang ekor kerbau dan rambut raksasa. Enam tangan lainnya memegang cakra, pedang, perisai, jerat, panah, dan sangkha—senjata yang dipercaya diberikan oleh para dewa dalam kisah mitologis untuk mengalahkan Mahisasura.
5. Fragmen Arca Durga
Meski hanya berupa fragmen, arca ini masih menyisakan penggambaran khas Durga. Bertangan delapan, arca ini berdiri di atas kerbau. Salah satu tangan kanan masih memegang ekor Mahisa, dan tangan kiri menjambak rambut asura. Bagian kepala telah patah, namun struktur tubuh dan sandaran arca tetap menunjukkan karakteristik Durga Mahisasuramardini.
6. Arca Durga Mahisasuramardhini (47/Tgl/2016)
Disimpan di halaman belakang Kantor Perpustakaan dan Kearsipan, arca ini kini dalam kondisi memprihatinkan—tertimbun kusen dan jendela tak terpakai. Durga berdiri di atas Nandi yang mendekam dan bersandar pada stella persegi. Kondisi rusak ini menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Durga di Indonesia dan Dunia: Persamaan dan Perbedaan
Penggambaran Durga di Indonesia umumnya berdiri di atas kerbau yang terbaring ke kiri, tangan kanan menarik ekor, dan tangan kiri menjambak rambut asura. Durga digambarkan memiliki 2 hingga 10 tangan, dengan perhiasan mewah dan mahkota tinggi. Asura ditampilkan muncul dari tubuh kerbau, berwajah ketakutan, dan kadang membawa senjata.
Berbeda dengan di India, arca Durga Mahisasuramardini lebih sering ditemukan dalam bentuk relief pada dinding candi. Ia digambarkan menunggang singa, dengan 4 hingga 24 tangan membawa berbagai senjata, termasuk trisula, vajra, dan mudgara. Ekspresi wajah Durga di India sering kali digambarkan marah dan garang, sementara di Indonesia lebih anggun dan tenang.
Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur
Ragam arca Durga yang ditemukan di berbagai penjuru Nusantara membuktikan luasnya pengaruh budaya Hindu di masa lampau dan bagaimana masyarakat lokal memaknai figur Dewi Durga sesuai konteksnya. Setiap pahatan, setiap ekspresi, dan setiap senjata yang dibawa menjadi jendela yang membuka pemahaman kita akan spiritualitas, kekuasaan, dan keindahan dalam seni arca Nusantara.
Kini, tantangannya adalah menjaga agar arca-arca tersebut tetap lestari dan mendapat perawatan yang layak. Sebab pada batu-batu itu, tersimpan sejarah panjang tentang keberanian, kekuatan perempuan, dan keindahan spiritual yang tak lekang oleh zaman. (jaz)
Editor : Zaki Jazai