Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Fakta Menarik Seputar Gempa Bumi dan Gelombang Seismik

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 29 April 2025 | 21:30 WIB
Ilustrasi pengukuran kekuatan gempa bumi.
Ilustrasi pengukuran kekuatan gempa bumi.

Trenggaleknjenggelek - Gelombang seismik adalah energi yang merambat melalui lapisan bumi akibat gerakan tiba-tiba lempeng bumi.

Sejak lebih dari 4.000 tahun lalu, manusia telah mencatat keberadaan gempa bumi, dan seiring berkembangnya teknologi, seismometer modern digunakan untuk mengukur gelombang energi ini dengan merekam getaran tanah.

Alat ini tidak hanya berguna untuk mendeteksi dan memprediksi gempa bumi, tetapi juga menjadi kunci dalam mempelajari struktur internal bumi.

Seismometer bekerja dengan mengukur gerakan naik-turun tanah melalui beban yang digantungkan pada pegas, dengan pena yang mencatat gerakan tersebut di atas kertas.

Istilah "tremor" mungkin juga sering terdengar berkaitan dengan aktivitas seismik.

Tremor adalah getaran kecil yang tidak cukup kuat untuk dikategorikan sebagai gempa bumi besar.

Meski kadang menjadi pertanda akan datangnya gempa lebih besar, tremor tidak selalu dapat diandalkan sebagai indikator pasti.

Untuk mengukur kekuatan gempa bumi, digunakan skala Richter yang dikembangkan oleh Charles Richter pada tahun 1935.

Skala ini bersifat logaritmik, sehingga setiap kenaikan satu angka berarti peningkatan amplitudo sekitar sepuluh kali lipat.

Misalnya, gempa bermagnitudo 3,0 memiliki amplitudo sepuluh kali lebih besar dibanding gempa bermagnitudo 2,0.

Seismometer dan skala Richter digunakan bersama untuk mendeteksi dan mengukur gempa, bahkan dari jarak hingga 100 kilometer.

Menariknya, skala Richter tidak hanya digunakan untuk mengukur gempa bumi alami.

Ledakan bom atom di Nagasaki dan gempa bumi di Lancashire, Inggris, pada tahun 2008, misalnya, tercatat memiliki magnitudo yang sama, yaitu sekitar 5, yang setara dengan 32 kiloton energi seismik.

Dari sisi geografi, Jepang merupakan negara yang paling sering mengalami gempa bumi.

Letaknya di zona paling aktif secara seismik di dunia membuat jaringan seismik Jepang terus-menerus mencatat aktivitas bawah tanah.

Sementara itu, dalam sejarah, gempa bumi paling mematikan tercatat terjadi di China, tepatnya di provinsi Shaanxi pada 23 Januari 1556, yang menewaskan sekitar 830.000 orang.

Diperkirakan, jika skala Richter sudah ada pada masa itu, kekuatan gempa tersebut berkisar antara 8,0 hingga 8,3.

Untuk gempa berkekuatan terbesar yang pernah tercatat, gempa Valdivia di Chili pada tahun 1960 menduduki posisi teratas dengan kekuatan 9,5 skala Richter.

Gempa ini memicu tsunami dahsyat yang menewaskan sekitar 5.700 orang.

Sementara itu, gempa terbesar kedua adalah gempa Samudra Hindia tahun 2004, dengan magnitudo 9,3, yang menelan korban jiwa sekitar 230.000 orang di beberapa negara seperti India, Sri Lanka, Thailand, dan Indonesia.

Pada dasarnya, gempa bumi adalah hasil dari pergerakan tiba-tiba lapisan bumi yang menghasilkan gelombang seismik.

Walau tidak bisa dihindari, kemajuan teknologi membantu kita dalam mengukur, memprediksi, dan mempersiapkan diri menghadapi gempa.

Ini menjadi langkah penting untuk mengurangi dampaknya terhadap manusia, meski kewaspadaan tetap menjadi kunci utama kapan pun bencana ini terjadi. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#Seismometer digital #gelombang seismik #gempa bumi