Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menilai Bid'ah dengan Bijak: Tidak Semua Hal yang Baru adalah Sesat

Mahsun Nidhom • Senin, 5 Mei 2025 | 23:30 WIB
Pahami inovasi dalam Islam dengan bijak.
Pahami inovasi dalam Islam dengan bijak.

Trenggaleknjenggelek - Dalam Islam, istilah bid'ah seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang baru dan dianggap sesat.

Banyak yang menganggap bahwa setiap inovasi atau perbuatan baru dalam agama pasti berlawanan dengan ajaran Islam yang asli.

Namun, apakah benar demikian? Tidak semua hal baru adalah bid'ah yang sesat, sebagaimana yang sering dipahami sebagian orang.

Untuk memahaminya lebih dalam, kita perlu merujuk pada pemahaman yang lebih luas dan objektif tentang bid'ah dalam konteks agama Islam.

Artikel ini mengutip buku "Potret Ajaran Nabi Muhammad, Dalam Sikap Santun Tradisi & Amaliah", yang dishahihkan oleh pengasuh Ponpes Lirboyo, KH. Ahmad Idris Marzuqi.

Baca Juga: Kenapa di Hari Jumat Selalu Ada Diskon Jumat Berkah: Dari Ajaran Islam Sampai Gimmick Marketing

Bid'ah

Secara bahasa, bid'ah berasal dari kata "bada'a," yang berarti menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Dalam konteks ini, bid'ah bisa berarti sesuatu yang diciptakan setelah zaman Nabi Saw.

Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadits, di mana Allah Swt. mengingatkan umat-Nya untuk tidak melakukan perbuatan yang menyeleweng dari jalan yang telah digariskan.

Namun, pengertian bid'ah tidak selalu negatif, karena ada juga bid'ah yang dianggap baik dan sesuai dengan ajaran Islam, asalkan tidak menyimpang dari syariat.

Baca Juga: VTuber Pavolia Reine: Elegansi Konsistensi dari Sayap Hololive Indonesia

Bid'ah dalam Hadits Nabi Saw

Dalam Hadits, Nabi Saw. menyebutkan bahwa "Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan." (HR. Muslim).

Hadits ini sering dipahami secara harfiah bahwa semua hal baru dalam agama adalah sesat.

Namun, jika kita melihat lebih mendalam, sebenarnya Nabi Saw. berbicara mengenai perbuatan yang baru yang tidak ada dasarnya dalam syariat Islam.

Seperti hal-hal yang berhubungan dengan akidah atau ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh beliau.

Namun, dalam hadits lain, Nabi Saw. juga mengatakan bahwa "barang siapa yang memulai perkara baru yang baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahala yang besar." (HR. Muslim).

Hadits ini mengindikasikan bahwa tidak semua inovasi dalam Islam adalah buruk. Ada inovasi yang membawa manfaat bagi umat Islam, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang telah ada.

Baca Juga: 6 Ide DIY Murah untuk Dekorasi Rumah: Kreativitas Tanpa Batas

Bid'ah: Tidak Semua Hal Baru Itu Sesat

Untuk memahami apakah semua hal baru itu sesat, kita harus memperhatikan konteks dan tujuan dari hal tersebut.

Misalnya, dalam hal ibadah, tidak ada masalah jika ada inovasi yang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar agama.

Sebagai contoh, teknologi yang mempermudah dakwah atau cara baru dalam beribadah yang tetap sesuai dengan tujuan syariat, seperti penggunaan alat elektronik untuk mengingatkan waktu salat, bisa dianggap sebagai bid'ah hasanah (bid'ah yang baik).

Sebaliknya, jika inovasi tersebut membawa perubahan yang menyeleweng atau memperkenalkan ajaran yang bertentangan dengan syariat, maka itu bisa disebut sebagai bid'ah dhalalah (bid'ah yang sesat).

Oleh itu, penting bagi umat Islam untuk selalu berhati-hati dalam menyikapi segala hal yang baru dan tidak langsung menilai bahwa itu adalah bid'ah yang sesat tanpa adanya kajian yang tepat.

Baca Juga: Cara Aman Menyimpan Kata Sandi: Self-Hosted Password Manager, Kenapa Tidak?

Pentingnya Pemahaman yang Bijak tentang Bid'ah

Dengan adanya sikap yang bijak dalam memahami bid'ah, umat Islam akan lebih mudah untuk menyaring mana yang sesuai dengan ajaran Nabi Saw. dan mana yang tidak.

Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an, kita diperintahkan untuk memahami segala sesuatu dengan hati yang terbuka dan bijaksana.

Sebab, setiap hal yang baru tidak bisa langsung dikategorikan sesat jika tidak ada bukti yang jelas bahwa hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam.

Beberapa ayat Al-Qur'an yang relevan dalam membahas bid'ah dan pemahaman kita terhadap hal-hal baru antara lain adalah:

Q.S. Al-Anbiya' ayat 30

"Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air." (Q.S. al-Anbiya’, 30), yang menunjukkan bahwa segala ciptaan baru adalah bagian dari kehendak Allah, dan tidak semua hal baru itu buruk.

Q.S. Ar-Rahman ayat 15

"Dan Allah menciptakan jin dari api yang sangat panas." (Q.S. Ar-Rahman, 15), yang mengingatkan kita bahwa ciptaan baru, meskipun berbeda, tetap berada dalam kehendak Allah.

Q.S. Al-Kahfi ayat 19

"Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu." (Q.S. Al-Kahfi, 79), yang menggambarkan bahwa ada hal baru yang memiliki peran dan fungsi baik meskipun terlihat berbeda dari kebiasaan sebelumnya.


Bid'ah bukanlah sesuatu yang harus selalu dicap buruk. Sebagaimana yang tercermin dalam banyak hadits dan ajaran para ulama, ada bid'ah yang bermanfaat dan ada pula yang sesat.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam perlu memastikan bahwa inovasi atau perubahan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Pemahaman yang tepat tentang bid'ah akan memungkinkan umat Islam untuk membedakan mana yang membawa kebaikan dan mana yang justru membawa keburukan.

Dengan pemahaman yang bijaksana, kita dapat menjaga agar segala inovasi yang kita lakukan tetap berada dalam koridor syariat Islam, menjaga persatuan umat, dan menghindari perpecahan yang dapat timbul akibat penilaian yang terburu-buru terhadap hal-hal baru. (sun)

Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Mahsun Nidhom
#qur'an dan hadist #Islam #bid'ah