Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Gowok dan Kawin Kontrak: Perbedaan Dua Praktik yang Sering Dikaitkan dengan Perempuan?

Mahsun Nidhom • Kamis, 8 Mei 2025 | 20:30 WIB

 

Dua praktik beda arah, tapi sama-sama tak sesuai nilai.
Dua praktik beda arah, tapi sama-sama tak sesuai nilai.

Trenggaleknjenggelek - Gowok, sebagai tradisi pendidikan seksual pranikah dalam budaya Jawa.

Meskipun sering kali dimaksudkan untuk mempersiapkan pasangan pengantin menghadapi kehidupan pernikahan, tetap menyisakan banyak kontroversi.

Ada banyak pandangan yang menyatakan bahwa Gowok merupakan praktik yang salah, karena melibatkan hubungan seksual sebelum pernikahan secara resmi.

Meskipun tujuan awalnya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang seksualitas kepada calon pengantin.

Dalam pandangan agama dan banyak nilai sosial, tindakan ini dianggap tidak sesuai dengan norma agama dan moral yang mengedepankan kesucian pernikahan.

Baca Juga: Trailer Gowok: Kamasutra Jawa Tampilkan Nuansa Romantis, Mencekam, dan Sarat Plot Twist Tradisi di Jawa

Praktik Gowok dapat dipandang sebagai penyimpangan dari ajaran agama, terutama dalam Islam, yang sangat menekankan pentingnya menjaga kesucian sebelum pernikahan.

Seksualitas di dalam Islam dianggap sebagai bagian dari ikatan suci dalam pernikahan yang sah, bukan sesuatu yang bisa dilakukan tanpa ikatan pernikahan resmi.

Maka, meskipun tradisi ini mungkin masih dipertahankan dalam beberapa komunitas, dalam konteks nilai agama dan moralitas modern, Gowok jelas dapat dianggap sebagai kesalahan.

Namun, berbeda dengan kawin kontrak—yang lebih merupakan bentuk jual beli jasa seksual—Gowok tidak berorientasi pada transaksi uang atau keuntungan material.

Kawin kontrak, yang marak terjadi di beberapa daerah dengan tujuan untuk mempermudah akses terhadap hubungan seksual.

Sering kali dilihat sebagai bentuk eksploitasi dan ketidaksetaraan, di mana wanita sering menjadi pihak yang terlepas dari hak-hak mereka dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Film Gowok: Kamasutra Jawa, Kisahkan Tradisi Tabu di Tengah Jawa Tempo Dulu

Kawin kontrak lebih dekat dengan praktik perdagangan tubuh, yang mengarah pada dehumanisasi.

Kawin kontrak dianggap lebih problematik karena melibatkan transaksi yang tidak hanya merusak nilai moral dan agama.

Tetapi juga membuka pintu bagi ketidaksetaraan dalam hubungan antara pria dan wanita.

Hal ini jelas lebih berbahaya daripada Gowok, meskipun keduanya tetap salah dalam konteks pandangan agama.

Gowok berfokus pada pemahaman tentang seksualitas dalam sebuah hubungan, sementara kawin kontrak lebih berorientasi pada transaksi yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dengan demikian, meskipun Gowok adalah praktik yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial, ia tidak bisa disamakan dengan kawin kontrak, yang lebih merusak martabat dan hak asasi manusia, terutama dalam konteks ketidaksetaraan gender dan eksploitasi.

Kedua praktik ini sama-sama salah, tetapi kawin kontrak lebih bermuatan transaksi dan jual beli yang merugikan pihak-pihak tertentu. (sun)

TEMUI LANGSUNG: Ketua TP PKK Sumenep Nia Kurnia Fauzi (kiri) menemui anak tengkes di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Selasa (6/5).
TEMUI LANGSUNG: Ketua TP PKK Sumenep Nia Kurnia Fauzi (kiri) menemui anak tengkes di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Selasa (6/5).
Editor : Mahsun Nidhom
#kawin kontrak #tradisi gowok #gowok