Trenggaleknjenggelek – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta seluruh kepala sekolah di Jawa Timur menjaga integritas dalam pelaksanaan sistem penerimaan murid baru (SPMB) yang menggantikan mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Penekanan ini disampaikan saat sosialisasi SPMB jenjang SMAN, SMKN, dan SLBN se-Jatim yang dihadiri oleh 200 kepala sekolah.
Khofifah menegaskan bahwa pelaksanaan SPMB harus menjunjung prinsip objektivitas, transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan tanpa diskriminasi. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat diwajibkan menandatangani pakta integritas.
“Penerimaan murid baru harus dilaksanakan secara objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan tanpa diskriminasi,” tegas Khofifah.
Ia juga membagikan enam strategi sukses dalam menjalankan SPMB, yakni pemahaman regulasi, sosialisasi efektif, pelayanan prima, pengawasan dan pemantauan, koordinasi dengan stakeholder, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Namun demikian, Khofifah mengingatkan bahwa teknologi bukan satu-satunya solusi.
“Semua harus berbasis solusi, tidak hanya berbasis TIK. Daya tampung SMA dan SMK Negeri kita hanya 38,31 persen. Saya harap nanti jika ada yang tidak diterima, diberikan solusi dan jalan keluar,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jatim, jumlah lulusan SMP dan sederajat pada tahun 2025 mencapai 682.252 siswa. Sementara daya tampung SMAN dan SMKN hanya sebesar 261.396 siswa, terdiri dari 126.180 kursi untuk SMAN dan 135.216 untuk SMKN. Artinya, sebanyak 420.856 lulusan atau 61,69 persen tidak tertampung di sekolah negeri.
Menanggapi tantangan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah alternatif. Salah satunya adalah kerja sama dengan sekolah swasta melalui skema beasiswa.
“Kami sedang membahas SPP gratis dari kuota 10 persen di masing-masing sekolah swasta yang kita harapkan bisa menerima siswa yang tidak diterima di SPMB. Akan ada MoU pada 2 Mei nanti,” ujar Aries.
Ia menjelaskan bahwa di Jawa Timur terdapat 1.083 SMA swasta dan 1.860 SMK swasta. Jika masing-masing menyediakan 10 beasiswa, maka akan tersedia 29.430 kursi tambahan bagi siswa baru.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah juga mengajak para kepala sekolah untuk terus berperan aktif menyiapkan generasi emas menyongsong Indonesia Emas 2045. Ia meyakini bahwa peran kepala sekolah, guru, dan perangkat daerah sangat signifikan dalam membentuk sumber daya manusia unggul.
“Mari kita menyambut Indonesia Emas 2045 dengan menyiapkan generasi emas. Panjenengan semua adalah kunci,” ucapnya.
Baca Juga: Jalur Prestasi SPMB 2025 Tak Lagi Gunakan Nilai Rapor
Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa kerja keras para pendidik tidak selalu mendapat sorotan publik. Namun ia meminta agar semua tetap semangat dan fokus mencetak prestasi.
“Yang berprestasi belum tentu viral. Tetaplah produktif dan optimis, karena nanti ketika anak-anak kita menempati posisi strategis, barulah terasa keindahannya,” pesannya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ikatan alumni sebagai bagian dari strategi pengembangan sekolah. Menurutnya, banyak alumni hebat yang lahir dari sekolah-sekolah di Jatim, namun tidak terdata dengan baik.
“Jawa Timur luar biasa, siapa yang menggerakkan mereka? Murid panjenengan semua. Tapi banyak guru tidak sadar karena ikatan alumni sering terputus,” ungkap Khofifah sambil mencontohkan kekuatan alumni di institusi global seperti Harvard dan Al-Azhar Mesir. (Jaz)
Editor : Zaki Jazai