Trenggaleknjenggelek - Basecamp pendakian umumnya menjadi titik awal sekaligus tempat beristirahat bagi para pendaki sebelum atau sesudah menaklukkan jalur pegunungan.
Di tempat ini, tersedia berbagai fasilitas yang memudahkan pendaki, seperti kamar mandi, warung makan, hingga tempat pengisian ulang logistik.
Namun demikian, pemandangan yang kerap muncul di sekitar basecamp adalah tumpukan sampah sisa logistik pendakian yang menggunung.
Meski pembuangan sampah di basecamp dinilai lebih baik dibandingkan meninggalkannya di sepanjang jalur pendakian, penumpukan sampah tetap menjadi persoalan serius.
Untuk menjawab tantangan tersebut, muncullah konsep pendakian ramah lingkungan yang dikenal sebagai zero waste.
Apa Itu Zero Waste?
Zero waste merupakan prinsip pendakian dengan meminimalkan penggunaan produk sekali pakai, terutama kemasan plastik.
Tujuan utamanya adalah mengurangi volume sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki, baik di jalur pendakian maupun di sekitar basecamp.
Sampah plastik dan kemasan makanan instan, misalnya, memerlukan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami dan berpotensi merusak ekosistem pegunungan.
Alih-alih menggunakan alat makan sekali pakai seperti styrofoam dan gelas plastik bekas, pendaki dianjurkan membawa perlengkapan makan pribadi yang dapat digunakan berulang kali.
Begitu pula dengan air minum, sebaiknya dibawa menggunakan botol atau tumbler isi ulang untuk mengurangi konsumsi botol plastik kemasan.
Mengurangi Sampah dari Logistik Makanan
Kebiasaan membawa makanan instan dalam kemasan plastik memang praktis, tetapi meninggalkan dampak negatif berupa sampah yang sulit diurai.
Pendaki sebaiknya membawa bahan makanan segar tanpa kemasan berlebih seperti sayuran, telur, atau buah-buahan yang dibeli dari pasar tradisional.
Bahan-bahan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai gizi lebih baik selama pendakian.
Memasak bersama kelompok pendaki selain menjadi sarana menjalin keakraban, juga memperkecil kemungkinan menimbulkan sampah tambahan.
Penggunaan alat masak bersama juga bisa mengurangi beban logistik dan menjaga efisiensi perbekalan.
Pengemasan Barang Secara Efisien
Pendaki umumnya membawa banyak kantong plastik untuk mengemas barang agar tetap kering saat hujan. Namun, hal ini justru memperbanyak volume sampah.
Solusi yang lebih bijak adalah menggunakan satu kantong plastik besar atau polybag sebagai pelapis utama tas carrier.
Cara ini dinilai lebih efisien dan sejalan dengan prinsip zero waste.
Pengelolaan Sampah Organik
Jika membawa bahan makanan segar, pendaki juga diimbau untuk belajar mengelola sampah organik dengan teknik sederhana, seperti pengomposan.
Caranya cukup mudah: buatlah lubang di tanah yang jauh dari jalur pejalan kaki atau sumber air, lalu kubur sisa makanan organik tersebut.
Teknik ini membantu proses penguraian alami sekaligus memberikan manfaat bagi tanah dan tumbuhan sekitar.
Namun penting diingat, hanya sampah organik yang boleh dikubur—sampah anorganik tetap harus dibawa turun. (kho)