Trenggaleknjenggelek - Sekarang banyak sekolah dan kampus mulai menggunakan proctoring AI untuk mencegah kecurangan ujian.
Misalnya, Institut Teknologi Del sudah menerapkan sistem ini untuk mendeteksi kecurangan lewat kamera laptop.
IPB juga menggunakan dua kamera, depan dan belakang agar tak hanya wajah, tapi juga lingkungan sekitar terus dipantau selama ujian online.
Deteksi Gerakan Mata hingga Klik Mouse
Proctoring AI bahkan mampu mendeteksi perubahan gerakan mata misalnya jika siswa mengalihkan pandangan dari layar ke sumber lain.
Algoritma ini dipakai untuk menandai momen mencurigakan dan memberi notifikasi otomatis ke pengawas.
Selain itu, sistem seperti Safe Exam Browser mencegah siswa membuka aplikasi selain browser ujian, sementara AI memantau pola klik dan gerakan mata untuk mendeteksi perilaku tak wajar .
Etika dan Kekhawatiran Privasi
Meskipun proctoring AI membantu menjaga keadilan ujian, ada masalah serius soal privasi dan data pribadi.
Teknik canggih seperti pengenalan wajah dan eye tracking berarti data biometrik siswa bisa tersimpan dan rentan disalahgunakan.
Apalagi bila teknologi dipasang tanpa persetujuan jelas atau kontrol yang transparan.
Seperti di UNY lalu, ada dugaan peserta menggunakan AI untuk mengerjakan ujian mandiri dialog di medsos ramai membahas praktik ini karena dianggap curang.
Sementara di UI, deteksi AI dan kombinasi skor digunakan untuk menjaga integritas SIMAK UI
AI proctoring menjanjikan ujian online yang lebih aman dan adil. Namun teknik seperti eye-tracking, pengawasan klik, dan pengenalan wajah bisa melanggar privasi jika tak disertai kebijakan tegas.
Sistem ini memang efektif menangkal kecurangan, tetapi harus didukung dengan regulasi kuat agar data siswa aman, penggunaan etis, dan transparan. (sun)