Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Apakah Chatbot Pendidikan Bisa Mengubah Guru Menjadi Sekadar Moderator?

Mahsun Nidhom • Kamis, 10 Juli 2025 | 18:30 WIB
Chatbot hanya alat, bukan pengganti empati dan kebijaksanaan.
Chatbot hanya alat, bukan pengganti empati dan kebijaksanaan.

Trenggaleknjenggelek - Seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, pertanyaan besar muncul: Apakah peran guru akan tergeser oleh chatbot?

Apakah guru hanya akan menjadi moderator, sementara pengajaran utama diserahkan ke mesin cerdas?

Dalam kelas hybrid atau full digital, peran chatbot pendidikan seperti ChatGPT, DeepSeek, atau platform lokal berbasis kurikulum semakin populer.

Mereka dapat menjawab soal matematika, menjelaskan konsep IPA, bahkan memeriksa tata bahasa dalam esai.

Namun, peran manusia dalam proses belajar tidak hilang begitu saja, melainkan bergeser.

Chatbot sebagai Asisten, Bukan Pengganti

Menurut laporan UNESCO 2023 tentang AI dan pendidikan, chatbot seperti ChatGPT digunakan untuk:

Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa AI tidak memiliki empati, intuisi pedagogis, atau kemampuan membimbing secara moral dan sosial.

Guru masih memegang kendali atas strategi pembelajaran, asesmen, dan pembentukan karakter siswa.

Kelas Hybrid: Dari Instruktur ke Kurator

Dalam kelas berbasis teknologi, peran guru mulai berubah:

Guru berperan penting dalam memverifikasi keakuratan jawaban chatbot, mengajarkan literasi digital, serta membangun keterampilan berpikir kritis terhadap jawaban mesin.

Ketergantungan dan Dehumanisasi

Jika tidak dikendalikan, chatbot bisa membuat siswa terlalu bergantung. Mereka mungkin lebih memilih bertanya pada AI ketimbang berdiskusi dengan guru. Di sinilah pentingnya intervensi pedagogis.

Masalah lain yang muncul adalah risiko dehumanisasi pembelajaran. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi proses pembentukan pribadi yang membutuhkan interaksi antarmanusia.

Hybrid Class di SMK Negeri di Yogyakarta

Salah satu SMK di Yogyakarta mulai menggunakan platform AI lokal untuk kelas daring. Guru melaporkan bahwa penggunaan chatbot membantu siswa mengerjakan tugas teknis.

Namun, ketika sesi tatap muka berlangsung, guru tetap menjadi tempat diskusi utama terutama untuk topik yang membutuhkan pemahaman mendalam dan konteks lokal.

Chatbot pendidikan memang bisa mengubah cara guru mengajar, tapi bukan menggantikan sepenuhnya.

Justru, peran guru semakin strategis sebagai moderator, pembimbing, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran.

Di era hybrid, kolaborasi antara guru dan AI bukan hanya mungkin tapi menjadi keharusan. (sun)

Editor : Mahsun Nidhom
#AI di bidang pendidikan #guru di era ai #kelas hybrid #Chat Bot