Trenggaleknjenggelek - Seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, pertanyaan besar muncul: Apakah peran guru akan tergeser oleh chatbot?
Apakah guru hanya akan menjadi moderator, sementara pengajaran utama diserahkan ke mesin cerdas?
Dalam kelas hybrid atau full digital, peran chatbot pendidikan seperti ChatGPT, DeepSeek, atau platform lokal berbasis kurikulum semakin populer.
Mereka dapat menjawab soal matematika, menjelaskan konsep IPA, bahkan memeriksa tata bahasa dalam esai.
Namun, peran manusia dalam proses belajar tidak hilang begitu saja, melainkan bergeser.
Chatbot sebagai Asisten, Bukan Pengganti
Menurut laporan UNESCO 2023 tentang AI dan pendidikan, chatbot seperti ChatGPT digunakan untuk:
- Menjawab pertanyaan materi 24/7
- Memberi penjelasan dengan berbagai sudut pandang
- Melatih pemahaman dengan tanya-jawab otomatis
Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa AI tidak memiliki empati, intuisi pedagogis, atau kemampuan membimbing secara moral dan sosial.
Guru masih memegang kendali atas strategi pembelajaran, asesmen, dan pembentukan karakter siswa.
Kelas Hybrid: Dari Instruktur ke Kurator
Dalam kelas berbasis teknologi, peran guru mulai berubah:
- Dari pemberi materi menjadi penyusun skenario pembelajaran
- Dari pusat pengetahuan menjadi fasilitator diskusi dan refleksi
- Dari evaluator tunggal menjadi mitra siswa dalam asesmen formatif
Guru berperan penting dalam memverifikasi keakuratan jawaban chatbot, mengajarkan literasi digital, serta membangun keterampilan berpikir kritis terhadap jawaban mesin.
Ketergantungan dan Dehumanisasi
Jika tidak dikendalikan, chatbot bisa membuat siswa terlalu bergantung. Mereka mungkin lebih memilih bertanya pada AI ketimbang berdiskusi dengan guru. Di sinilah pentingnya intervensi pedagogis.
Masalah lain yang muncul adalah risiko dehumanisasi pembelajaran. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tapi proses pembentukan pribadi yang membutuhkan interaksi antarmanusia.
Hybrid Class di SMK Negeri di Yogyakarta
Salah satu SMK di Yogyakarta mulai menggunakan platform AI lokal untuk kelas daring. Guru melaporkan bahwa penggunaan chatbot membantu siswa mengerjakan tugas teknis.
Namun, ketika sesi tatap muka berlangsung, guru tetap menjadi tempat diskusi utama terutama untuk topik yang membutuhkan pemahaman mendalam dan konteks lokal.
Chatbot pendidikan memang bisa mengubah cara guru mengajar, tapi bukan menggantikan sepenuhnya.
Justru, peran guru semakin strategis sebagai moderator, pembimbing, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran.
Di era hybrid, kolaborasi antara guru dan AI bukan hanya mungkin tapi menjadi keharusan. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom