Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Apa yang Terjadi Jika Sekolah Hanya Menyusun Kurikulum dan Belajar Berdasarkan AI?

Mahsun Nidhom • Jumat, 11 Juli 2025 | 17:25 WIB
AI serba data, bukan inovasi, pendidikan bisa kehilangan jiwa.
AI serba data, bukan inovasi, pendidikan bisa kehilangan jiwa.

Trenggaleknjenggelek - Di tengah maraknya adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan, muncul satu pertanyaan penting: Apa jadinya jika sekolah menyusun seluruh kurikulum dan metode belajar hanya berdasarkan rekomendasi AI?

Sekilas, gagasan ini terdengar efisien, lebih personal, berbasis data, dan hemat waktu. Tapi jika ditelaah lebih dalam, pendekatan serba algoritmik ini berpotensi menyeragamkan cara berpikir siswa dan mengikis nilai-nilai pendidikan yang lebih manusiawi.

AI memang mampu menganalisis data dalam jumlah besar mulai dari skor ujian, kebiasaan belajar, hingga kecepatan menyerap materi.

Dari data tersebut, sistem bisa menyarankan topik yang “paling relevan” atau bahkan memprediksi konten yang “paling efektif”.

Inilah konsep data-driven curriculum design, di mana materi disusun berdasarkan apa yang dianggap paling cocok oleh algoritma.

Namun, riset dari UNESCO (2023) menunjukkan bahwa personalisasi ekstrem yang bergantung pada machine learning justru dapat mempersempit cakrawala berpikir siswa.

Sebab, algoritma cenderung menyarankan pola belajar berdasarkan perilaku masa lalu, bukan tantangan masa depan.

Salah satu bahaya tersembunyi dari kurikulum berbasis AI adalah homogenisasi yaitu ketika semua siswa diarahkan pada jalur pembelajaran yang mirip, hanya karena dianggap “paling optimal” oleh mesin.

Ini bisa terjadi karena sistem cenderung memperkuat pola mayoritas, bukan keberagaman minoritas.

Padahal, pendidikan sejatinya bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang penemuan jati diri, eksplorasi ide, dan kemampuan untuk berbeda.

Jika materi disesuaikan hanya untuk "mengejar data", maka ruang untuk berpikir kritis, kesenian, atau budaya lokal bisa terpinggirkan.

AI dalam pendidikan juga menimbulkan pertanyaan besar soal transparansi. Algoritma yang digunakan oleh platform seperti ChatGPT, DeepSeek, atau sistem LMS berbasis AI, tidak selalu bisa dijelaskan secara terbuka.

Apa dasar penentuan jalur belajar siswa? Apakah datanya netral, atau justru mencerminkan bias dari penyedia teknologi?

Tanpa pengawasan yang ketat, kurikulum bisa berubah menjadi produk algoritma yang tak bisa diaudit, menyingkirkan peran penting guru sebagai fasilitator berpikir kritis.

Sekuat apa pun AI, guru tetap diperlukan sebagai penafsir nilai, penjaga konteks lokal, dan penghubung antara ilmu dengan kehidupan nyata.

Mereka mampu melihat sisi emosional siswa yang tidak bisa ditangkap oleh angka dan grafik. Pendidikan seharusnya bersifat transformatif, bukan sekadar adaptif terhadap data. (sun)

Editor : Mahsun Nidhom
#kurikulum berbasis ai #data driven #homogenisasi pendidikan