Trenggaleknjenggelek - Di era sekolah digital, anak-anak kini makin akrab dengan layar—entah itu laptop, tablet, atau ponsel.
Dari usia SD pun sudah mahir pakai aplikasi desain, editing video, sampai ngoding pakai Python atau JavaScript.
Tapi lucunya, banyak dari mereka tak tahu nama tetangganya sendiri. Mau ngajak ngobrol? Kaku. Disuruh sapa? Menunduk.
Fenomena ini bukan cuma soal anak-anak yang "terlalu betah di rumah" atau "suka menyendiri".
Tapi lebih dalam, ini soal pendidikan karakter yang perlahan tergeser dari prioritas utama pendidikan kita.
Tak bisa dipungkiri, sekolah digital telah membawa revolusi besar dalam dunia pendidikan. Anak-anak belajar coding, AI, desain grafis, bahkan punya startup mini di usia belia.
Tapi di balik gemerlap teknologi itu, nilai-nilai dasar dalam interaksi sosial anak justru makin kabur.
Bahkan, kegiatan seperti:
- Menyapa tetangga
- Bermain bersama teman sekitar
sering dianggap "kurang penting" dibanding ranking coding, lomba poster digital, atau project metaverse sekolah.
Ironisnya, banyak sekolah yang rajin lomba inovasi, tapi lupa melatih empati murid. Anak dilatih bikin presentasi startup, tapi gagal membaca ekspresi orang yang sedang sedih.
Padahal, interaksi sosial anak itu fondasi penting untuk membangun generasi yang tak cuma pintar, tapi juga peduli.
Kalau sekolah terus fokus pada hasil dan prestasi akademik digital, tanpa seimbang dengan penguatan nilai karakter dan interaksi sosial, maka jangan kaget kalau anak-anak tumbuh jadi pribadi yang "connect ke WiFi, tapi disconnect ke sekitar".
Pendidikan karakter bukan sekadar tema upacara atau slogan di dinding kelas. Ini soal membiasakan anak mengucapkan "tolong", "maaf", dan "terima kasih". Soal keberanian menyapa orang di sekitar, dan kepedulian untuk saling tolong.
Sekolah digital adalah masa depan, tapi anak yang hangat, sopan, dan berempati tetap akan jadi harapan. Jangan sampai kita mencetak generasi genius yang kering rasa. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom