Trenggaleknjenggelek - Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Trenggalek periode 2025–2030, Drs. Catur Winarno, M.M., menyampaikan arah program kerja organisasi lima tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa PGRI akan hadir sebagai organisasi profesi, perjuangan, sekaligus ketenagakerjaan.
“PGRI memiliki tiga peran utama, dan kami berkomitmen mengisi semuanya. Dari sisi profesi, kami ingin meningkatkan mutu guru melalui berbagai diklat serta bimbingan teknis, terutama bagi guru yang selama ini belum terjangkau program pemerintah,” ujarnya.
Menurut Catur, kondisi pendidikan di Trenggalek masih menghadapi banyak tantangan. Kekurangan guru masih terasa, ditambah sejumlah jabatan kepala sekolah dan pengawas yang kosong. Saat ini, dari 14 koordinator wilayah SD, dua kecamatan sudah tanpa pengawas, dan hingga akhir tahun diperkirakan ada lima kecamatan yang mengalami kekosongan pengawas. Untuk SMP, jumlah pengawas hanya tersisa lima orang, sedangkan PAUD dan TK tinggal empat orang.
“Semua komponen pendidikan — guru, kepala sekolah, hingga pengawas — memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan. Karena itu kami mendorong pemerintah daerah, khususnya Bupati beserta jajarannya, agar bersama-sama mencari solusi demi kebaikan pendidikan di Trenggalek,” tambahnya.
Dalam aspek perjuangan dan ketenagakerjaan, PGRI juga akan terus mengawal peningkatan kesejahteraan guru. Catur menyampaikan apresiasi atas langkah Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang baru-baru ini telah mengangkat secara massal guru honorer menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi kebijakan Bupati Trenggalek. Ke depan, kami berharap langkah ini bisa terus berlanjut. PGRI adalah mitra pemerintah, dan kami siap berkolaborasi untuk kepentingan kemajuan pendidikan di Kabupaten Trenggalek,” tegasnya.(gun)