Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Tantangan Arista Dewi, Guru Asal Trenggalek yang Konsisten Menghadirkan Bahasa Jawa di Era Modern dengan Metode Kreatif Gabungkan Tembang

Gunawan Awan • Sabtu, 27 September 2025 | 02:45 WIB

 

Arista Dewi, guru bahasa Jawa asal Desa/Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang teguh menjaga warisan budaya melalui dunia pendidikan.
Arista Dewi, guru bahasa Jawa asal Desa/Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang teguh menjaga warisan budaya melalui dunia pendidikan.

 

TRENGGALEK – Di tengah derasnya arus globalisasi, bahasa daerah termasuk di Trenggalek kerap tersisih oleh bahasa-bahasa yang dianggap lebih modern.

Namun, di balik tantangan itu, hadir sosok Arista Dewi, guru bahasa Jawa asal Desa/Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang teguh menjaga warisan budaya melalui dunia pendidikan.

Perjalanan pengabdiannya menorehkan jejak di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Depok, hingga kembali ke tanah kelahirannya di Trenggalek.

Setiap langkahnya menunjukkan konsistensi dalam satu misi: merawat bahasa ibu agar tetap hidup di tengah gempuran zaman.

Karier Arista bermula di Surabaya, kota besar yang penuh dinamika modern.

Di sana, dia menghadapi tantangan besar yaitu bagaimana menghadirkan bahasa Jawa agar tetap menarik di tengah budaya populer yang begitu digandrungi generasi muda.

Dengan metode kreatif, seperti menggabungkan tembang Jawa dengan musik kontemporer, lomba cerita rakyat, hingga drama berbahasa Jawa.

Dia berhasil menumbuhkan kembali rasa bangga pada bahasa ibu di hati para siswanya. “Kalau disajikan dengan cara yang segar, anak-anak tidak merasa bahasa Jawa itu kuno. Justru mereka bisa menemukan kebahagiaan baru,” tutur Arista.

Pengalaman itu kemudian membawanya ke Depok, sebuah kota urban dengan suasana multikultural.

Di lingkungan yang beragam, Arista semakin memantapkan dedikasinya.

Dia membuktikan bahwa bahasa Jawa tidak hanya menjadi mata pelajaran di sekolah, tetapi jembatan persaudaraan dan penguat identitas, bahkan di tanah rantau.

Meski jauh dari Jawa Timur, semangat siswa-siswinya untuk mengenal budaya daerah semakin tumbuh berkat cara mengajarnya yang interaktif.

“Bahasa Jawa bisa jadi perekat, bukan penghalang,” ucapnya.

Namun, panggilan hati akhirnya menuntunnya pulang ke Trenggalek, tanah kelahirannya. Kini, dia mengabdikan diri sebagai guru bahasa Jawa di MTsN 2 Trenggalek.

Baginya, pulang ke kampung halaman bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab budaya.

“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi warisan luhur yang membentuk jati diri kita,” katanya penuh keyakinan.

Sikap Arista yang penuh semangat namun lembut menjadikannya panutan, tidak hanya bagi murid, tetapi juga rekan sesama pendidik. Perlahan, kerja kerasnya mulai terasa.

Banyak siswa yang awalnya menganggap bahasa Jawa kuno dan sulit, tetapi kini justru dengan bangga menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Dia menyalakan kembali api kebanggaan pada bahasa daerah yang sempat nyaris padam.

Kehadirannya menjadi bukti bahwa di tengah gempuran globalisasi, warisan budaya dapat tetap hidup bila ada sosok pendidik yang setia menjaganya.

”Bahasa Jawa yang saya hadirkan bukan sekadar pelajaran di kelas, melainkan penopang identitas bangsa yang tak boleh hilang,“ jelas Arista. (gun/c1/jaz)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#guru bahasa jawa #trenggalek #Arista Dewi #MTsN 2 Trenggalek