Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kasus Pemukulan Guru di Trenggalek oleh Keluarga Siswa, Anggota DPR RI Novita Hardini: Perlu Betuk Satgas Perlindungan Guru dan Anak

Zaki Jazai • Kamis, 20 November 2025 | 20:59 WIB

 

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini.
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini.

TRENGGALEK – Kasus penganiayaan terhadap Eko Prayitno, guru SMPN 1 Trenggalek, berbuntut panjang.

Selain memantik kemarahan publik, peristiwa di Trenggalek tersebut juga mendorong desakan agar pemerintah mengambil langkah sistematis untuk memastikan keamanan tenaga pendidik.

Seruan itu disampaikan langsung oleh Bunda Guru Trenggalek, Novita Hardini.

Novita menegaskan, peristiwa pemukulan guru merupakan alarm serius yang menunjukkan rapuhnya perlindungan terhadap tenaga pendidik di sekolah.

Sikap ini disampaikannya setelah menerima laporan lengkap mengenai kejadian yang menimpa Eko, sosok guru yang selama ini dikenal memiliki dedikasi kuat pada dunia pendidikan dan seni di Trenggalek.

“Saya sangat prihatin. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Pak Eko adalah guru teladan, bahkan juga seorang perupa yang banyak mendedikasikan dirinya untuk Trenggalek dan generasi muda,” ujar Novita.

Setelah mengetahui insiden tersebut, Novita langsung menghubungi sejumlah pihak untuk memastikan pendampingan hukum terhadap korban berlangsung maksimal.

“Saya langsung menelepon beberapa staf. Kami mendorong agar pendampingan hukum diberikan, dan alhamdulillah, pendampingan dari PGRI sampai hari ini masih berjalan,” jelasnya.

Meski Eko tidak merasakan trauma psikis, Novita menyebut kondisi berbeda justru dialami keluarga korban.

Istri dan anaknya berada di lokasi saat pengeroyokan terjadi dan kini mengalami trauma yang memerlukan penanganan intensif.

Dinas Sosial (Dinsos) Trenggalek telah memberikan pendampingan sejak kejadian berlangsung.

“Saya terus memantau. Ternyata istri dan anak beliau mengalami trauma. Untungnya, dinsos sudah memberikan penanganan,” katanya.

Melihat dampak yang ditimbulkan, Novita menilai pemkab perlu melakukan langkah struktural dan berkelanjutan, bukan sekadar respons setelah kejadian.

“Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang di Trenggalek. Karena itu, saya minta dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga segera membentuk Satgas Perlindungan Guru dan Anak dari bullying maupun kekerasan lain,” tegasnya.

Peristiwa penganiayaan terjadi setelah Eko menegakkan aturan penggunaan ponsel di kelas pada Jumat (31/10/2025).

Dia hanya memperbolehkan dua ponsel per kelompok untuk mencari materi pelajaran, sementara pelanggaran berpotensi berujung penyitaan selama satu semester.

Namun seorang siswi berinisial N menggunakan ponselnya untuk hal di luar pembelajaran.

Ponsel tersebut kemudian disita dan diserahkan ke bagian kesiswaan. Tindakan disiplin itu memicu kemarahan keluarga siswi.

Usai pelajaran, orang tua siswi menelepon Eko sambil memaki dan menantang berkelahi.

Tidak lama setelahnya, sebuah mobil Innova hitam tiba di rumah Eko.

Seorang pria yang mengaku kakak siswi itu memukul korban dua kali di kepala di depan istri dan anaknya.

Novita berharap kejadian ini menjadi momentum pemerintah untuk benar-benar melindungi guru sebagai ujung tombak pendidikan. “Jangan sampai guru bekerja dalam ketakutan.

Mereka harus merasa aman saat menjalankan tugas,” pungkas Anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur ini. (jaz/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#pemukulan guru #dpr ri #novita hardini #trenggalek