JAWA TENGAH – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan bahwa sistem sekolah enam hari akan kembali diterapkan untuk jenjang SMA/SMK mulai semester mendatang.
Kebijakan di Jawa Tengah ini menjadi respons atas tingginya tingkat kelelahan siswa selama penerapan lima hari sekolah atau full day school yang dinilai terlalu padat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, Sadimin, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah strategi untuk mendukung kebijakan tersebut.
Baca Juga: Siswa di Trenggalek Ikuti TKA 2025, Wujudkan Kompetensi Secara Jujur dan Bersemangat
Salah satu upaya terpenting adalah melakukan rotasi atau transfer tugas guru agar lokasi mengajar lebih dekat dengan domisili.
Menurut Sadimin, efisiensi jarak tempuh berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan kesehatan guru.
“Rotasi ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi kembali diberlakukannya sekolah enam hari. Upaya ini juga terbukti menjaga kinerja tenaga pendidik,” ujarnya saat ditemui di SMA Pradita Dirgantara.
Difokuskan untuk SMA/SMK, Bisa Merembet ke SD sampai SMP
Kebijakan ini saat ini diprioritaskan untuk sederajat SMA/SMK.
Namun, tidak menutup kemungkinan akan merambah ke jenjang SD dan SMP apabila evaluasi menunjukkan dampak positif bagi peserta didik.
Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Tengah, Agung Wijayanto, menyampaikan bahwa alasan utama kembali ke pola enam hari adalah kondisi fisik dan mental siswa.
Dia menilai padatnya aktivitas belajar hingga belasan jam dalam sistem lima hari cukup santai.
“Kalau sehari sampai 10 jam berada di sekolah, kasihan anak-anak. Kami melihat munculnya kelelahan fisik dan mental yang cukup signifikan,” kata Agung.
Dengan pembagian hari yang lebih merata, siswa diharapkan memiliki waktu luang yang cukup untuk mengikuti kegiatan lain seperti TPQ, ekstrakurikuler, hingga pengembangan bakat non-akademik.
Tantangan: Pemerataan Guru Belum Optimal
Meski begitu, Agung mengakui bahwa transfer guru untuk pemerataan belum bisa dilakukan secara maksimal.
Keterbatasan jumlah guru dan keterpaduan kebutuhan di sekolah-sekolah menjadi tantangan tersendiri.
Cabang Dinas saat ini terus berkoordinasi dengan berbagai sekolah untuk memastikan kesiapan teknis sebelum kebijakan diberlakukan secara resmi pada awal semester.
Sekolah Mulai Siap Beradaptasi
Kepala SMKN 3 Solo, Hendrina Widiastuty, menyatakan sekolahnya siap mengikuti keputusan pemerintah.
Ia menyebut bahwa sosialisasi akan segera dilakukan kepada guru, karyawan, serta siswa.
Menurutnya, perubahan jadwal tentu memiliki sisi positif dan negatif.
"Dengan enam hari, jam pulang bisa lebih siang. Ada sisi baik dan kekurangan. Kuncinya hanya pembiasaan," jelasnya.
Hendrina menambahkan bahwa pihak sekolah juga perlu menyesuaikan pembagian jam kerja guru serta melakukan komunikasi intensif dengan orang tua siswa.
“Harapannya seluruh warga sekolah bisa menerima dengan baik. Meski dulu pernah diterapkan, tetap butuh pendampingan dalam penyesuaian,” katanya.
Kebijakan kembali ke sekolah enam hari ini diharapkan mampu menyeimbangkan kegiatan belajar serta menjaga kesehatan fisik dan mental siswa di Jawa Tengah. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah