TRENGGALEK- Bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional pada 25 November sebagai momen di Trenggalek untuk menghargai jasa para pendidik yang telah mengabdikan diri dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bagi guru seni budaya di SMPN 1 Trenggalek, Maya Puspita Sari, Hari Guru bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan refleksi mendalam tentang arti profesi yang dijalani sebagai panggilan hati.
Apalagi telah mengajar selama beberapa tahun di SMPN 1 Trenggalek dan menyaksikan langsung dinamika dunia pendidikan yang terus berubah seiring perkembangan teknologi.
Menurut dia, menjadi guru pada era digital khususnya di tengah dominasi generasi Z atau Gen Z adalah tantangan sekaligus kebanggaan.
“Hari Guru ini sebenarnya menjadi sesuatu yang sangat membanggakan, terutama di Indonesia. Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga penjaga karakter,” ujarnya Senin (24/11/2025).
Dia mengaku kondisi siswa zaman sekarang jauh berbeda dengan satu atau dua dekade lalu.
Generasi Z tumbuh dengan paparan teknologi yang sangat kuat, terbiasa mengakses internet sejak usia dini, dan menjadikan media sosial serta gim sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka banyak peluang positif. Akses informasi menjadi lebih cepat, materi pembelajaran lebih variatif, hingga kreativitas siswa bisa berkembang melalui berbagai platform digital.
Namun, di sisi lain, arus digital tersebut membawa dampak negatif yang harus diantisipasi.
“Anak-anak sekarang lebih mudah terpengaruh oleh media sosial. Fokus mereka mudah teralihkan, dan banyak yang lebih mengenal figur-figur viral dibanding tokoh teladan,” kata Maya, sapaan akrabnya.
Game online juga menjadi salah satu distraksi terbesar. Tidak sedikit siswa lebih bersemangat membicarakan level atau item game dibanding tugas sekolah.
Situasi inilah yang membuat peran guru semakin kompleks.
Baca Juga: Dies Natalis Ke-70 SMPN 1 Trenggalek, Kebersamaan Menuju Snesa yang Atraktif
Mereka tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga harus menjadi pembimbing moral dan penguat karakter.
Dia menilai bahwa tugas guru generasi sekarang dua kali lebih berat. Selain memastikan siswa memahami pelajaran, guru juga harus cermat membentuk karakter agar para siswa tidak hanyut dalam arus negatif perkembangan digital.
“Guru harus bisa menyeimbangkan antara pengetahuan akademis dan pendidikan karakter. Kami harus kreatif, dekat dengan siswa, memahami dunia mereka, tapi tetap memberikan batasan,” tuturnya.
Meski tantangan semakin berat, dia tetap optimis dan percaya. Bahwa jika guru diberi ruang dan penghargaan yang layak, dunia pendidikan Indonesia akan terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Dia menambah menyampaikan keprihatinan terhadap fenomena menurunnya penghargaan terhadap profesi guru akhir-akhir ini.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa guru sering kali disalahkan ketika mengambil tindakan tegas demi mendidik siswa.
“Sekarang ini banyak kejadian guru tidak dihargai. Dulu, ketika guru memberi nasihat atau sedikit teguran, itu dianggap bagian dari pembelajaran untuk menguatkan karakter siswa ke arah yang lebih baik. Tapi sekarang, ada saja orang tua yang salah paham, bahkan menjadikan laporan kecil sebagai masalah besar,” jelasnya.
Dia berharap masyarakat dapat kembali menempatkan guru pada posisi terhormat sebagaimana mestinya.
Marwah guru harus tetap dijaga karena guru memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun generasi masa depan bangsa.
Dia mengajak semua pihak orang tua, masyarakat, hingga pemerintah untuk bersama-sama mendukung guru.
“Semoga ke depan guru lebih dihargai. Kami tidak menuntut lebih, hanya ingin dihormati sebagaimana kami menghormati tugas kami mendidik anak-anak bangsa. Marwah guru itu harus tetap ada,” pungkasnya. (gun/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah