TRENGGALEK – Sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bullying, termasuk siber bullying di lingkungan pendidikan, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Trenggalek mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalankan program pendidikan karakter.
Pendidikan karakter untuk siswa di Trenggalek dinilai menjadi benteng utama dalam mencegah perilaku menyimpang di lingkungan sekolah.
Kepala Seksi Pemetaan dan Pengembangan Pendidikan (Kasi P2P) Dikpora Trenggalek, Priyo Susanto mengungkapkan bahwa lingkup pendidikan tidak hanya berfokus pada keilmuan namun juga pembentukan karakter.
Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional.
“Tujuan pendidikan nasional kita harus membentuk yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakep, kreatif, mandiri, dan demokratis serta bertanggung jawab sebagai warga negara yang bermertabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Dia mengaku peyimpangan-penyimapangan di wilayah satuan pendidikan masih terjadi, salah satunya adalah bullying.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya kasus kekerasan yang terjadi terhadap guru beberapa bulan yang lalu di Kabupaten Trenggalek.
Peristiwa itu juga menjadi pengingat bahwa kekerasan di dunia pendidikan masih menjadi persoalan yang rumit.
Dampak yang ditimbulkan dari bullying cukup serius, mulai dari truma, terorisme bahkan kematian.
Maka upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, mengingat dampak dari bullying yang sangat luar biasa.
“Efek dari bullying itu kan bisa luar biasa yang tampak luar biasa contohnya di SMA 72 Jakarta, Namun ada juga yang tak nampak,kadang-kadang ada yang bunuh diri, kalau sampai bunuh diri memang luar biasa (efeknya),” jelasnya.
Maka dari itu, dikpora mendukung berbagai kegiatan yang dapat mengedukasi bahaya dari bullying.
Salah satunya dengan nonton bareng film bertema bullying dan mengundang kepala sekolah tingkat SD dan SMP.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana referensi untuk para kepala sekolah mengenai macam-macam jenis bullying, salah satunya Cyberbullying.
Priyo mengatakan kegiatan tersebut diharpakan dapat meningkatkan kesadaran para pemangku satuan pendidikan akan bahaya bullying langsung maupun siber bullying.
Dengan demikian, para warga sekolah terhindar dan tidak menjadi pelaku bullying, kalaupun terdapat kasus bullying pihak sekolah dapat menanganinya.
“Hingga harapannya nanti ketika kembali ke sekolah pengelolaan di sekolah juga support pada penghentian buli sepertimana di tema kemarin judulnya si berbuli dalam bentuk digital,” pungkasnya. (tra/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah