TRENGGALEK – Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 Pule Kabupaten Trenggalek terus melakukan inovasi-inovasi dalam metode pembelajaran.
Salah satu inovasi tersebut adalah program pembelajaran yang mengakomodir siswa berkebutuhan khusus atau pembelajaran inklusi.
Inovasi tersebut dinamakan SAVANA (Strategi visual anak down syndrime berbasis aktivitas nyata).
Salah satu guru Bimbingan Konseling SMPN 3 Pule, Happy Devitasri menjelaskan bahwasannya inovasi tersebut di latar belakangi oleh simpatinya terhadap anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SMPN 3 Pule.
Dia menyayangkan apabila anak-anak tersebut terabaikan. “Saya merasa kalau anak kebutuhan khusus terabaikan itu, sayang sekali,” jelasnya Kamis (11/12/2025).
Dia mengatakan dari hal tersebut, ia mendapatkan ide untuk menjadikan anak berkebutuhan khusus mampu untuk belajar dan sebagainya.
Happy mengatakan anak-anak yang memeliki kebutuhan khusus tersebut akan diberikan pembelajaran dan stimulasi sedikit demi sedikit.
“Jadi kami berpikiran untuk bagaimana caranya anak kebutuhan khusus ini bisa dan mampu. Jadi sedikit-sedikit aja,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan mekanisme penerapan inovasi tersebut di lingkungan sekolah. Contohnya salah satu siswanya yang memiliki autisme.
Pada tahap awal, siswa tersebut belum memahami mata uang maupun huruf, dan hanya mengenal angka serta huruf dasar.
“Ini adalah anak kebutuhan khusus Down syndrome, yang mana awalnya itu hanya mengenal angka dasar saja. Nah, tentunya untuk mengenali mata uang saja kan dia tidak mampu,” tuturnya
Dari kasus tersebut, Happy kemudian berkolaborasi dengan guru matematika untuk membuat program pembelajaran yang dapat membantu anak muridnya tersebut.
Baca Juga: Perkuat Pendidikan Karakter di Trenggalek untuk Mencegah Terjadinya Bullying
Kolaborasi tersebut menghasilkan pembelajaran yang berbasis kesukaan murid.
“Akhirnya kami berpikir kalau kolaborasi dengan guru mata pelajaran matematika untuk bagaimana sistem belajaran sifatnya ini agar dia itu mampu belajar dengan senang. Akhirnya, kami menggali apa yang menjadi kesukaannya,” ujarnya.
Setelah dicari, Happy menemukan apa yang menjadi kesukaan muridnya tersebut.
Pada akhirnya menjadikan itu sebagai saran pemantik pembelajaran untuk muridnya yang berkebutuhan khusus.
"Jadi, dia kesukaannya itu sepakbola. Jadi kita gunakan bola jadi pemantiknya buat pembelajarannya. Misalkan gini, bola 1 ditambah bola 2, ini berapa mata. Jadi, kami memberikan gambaran kepada mereka," jelasnya.
Happy berharap dengan adanya inovasi tersebut dapat menjadikan anak-anak yang berkebutuhan khusus dapat belajar seperti teman-teman yang lainnya.
Selain itu, dia juga berharap dengan adanya inovasi tersebut dapat memberikan bimbingan secara intensif.
“Jadi mudah-mudahan dengan adanya Savana ini udah-mudahan saya bisa lebih memberikan pembingungan yang lebih, dan menjadikan anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar sama dengan seperti teman yang lainnya begitu,” pungkasnya. (tra/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah