Trenggaleknjenggelek– Istilah Walid belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul dalam serial Malaysia Bidaah. Namun, di balik kontroversi karakter fiktif dalam drama tersebut, kata Walid sebenarnya memiliki makna mendalam dalam bahasa dan budaya Arab. Lantas, apa sebenarnya arti kata ini?
Dalam bahasa Arab, Walid (وَالِد) secara harfiah berarti ayah atau bapak. Kata ini berasal dari akar kata walada (وَلَدَ), yang artinya melahirkan atau menghasilkan keturunan.
Namun, penggunaannya tidak sesederhana penyebutan ayah dalam bahasa Indonesia. Walid memiliki nuansa khusus:
1. Sebutan untuk Ayah Kandung atau Ayah Angkat
- Dalam konteks keluarga, Walid bisa merujuk pada ayah kandung (biological father).
- Namun, bisa juga dipakai untuk menyebut ayah tiri atau ayah angkat, terutama jika ia berperan aktif dalam pengasuhan.
2. Gelar Penghormatan
- Di beberapa budaya Arab, Walid digunakan sebagai gelar kehormatan untuk tokoh yang dianggap sebagai bapak dalam arti figur pemimpin atau guru spiritual.
- Contoh: Walid al-Kabir (Bapak yang Agung) untuk menyebut ulama atau pemimpin komunitas.
Selain itu, banyak yang bertanya: Apa bedanya Walid dan Abu?
- Abu (أَبُو): Lebih umum dipakai untuk ayah kandung dan memiliki makna literal bapak dari [nama anak]. Contoh: Abu Bakar (Bapak Bakar).
- Walid: Lebih formal dan sering dipakai dalam konteks religius atau sastra.
Ditambahkan, selain sebagai kata sapaan, Walid juga populer sebagai nama laki-laki di dunia Arab. Artinya yang baru lahir atau anak yang diberkahi. Beberapa tokoh terkenal dengan nama ini:
- Walid bin Abdul-Malik: Khalifah Umayyah abad ke-8.
- Walid Muammar: Pemain sepak bola asal Uni Emirat Arab.
Dalam serial Bidaah, istilah Walid dipakai untuk karakter pemimpin sekte sesat. Namun, penting dicatat bahwa penggunaan ini bersifat fiktif dan tidak mewakili makna asli kata tersebut. "
Bahasa Arab kaya akan makna. Kata 'Walid' sejatinya mulia, tapi seperti semua kata, ia bisa dipelintir dalam konteks negatif," jelas Dr. Ahmad Al-Faruq, pakar linguistik Arab dari Universitas Indonesia. (Jaz)
Editor : Zaki Jazai