TRENGGALEK - Dedikasi dan semangat belajar yang tinggi menjadi kunci utama perjalanan hidup Nur Annisa, seorang guru Raudhatul Athfal (RA) di Kabupaten Trenggalek yang mengabdikan diri di dunia pendidikan anak usia dini.
Perempuan asal Desa/Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek, ini membuktikan bahwa ketulusan, keberanian mencoba, dan kerja keras mampu membawa perubahan besar, baik dalam dunia pendidikan maupun perekonomian keluarga.
Perjalanan karier Nur Annisa sebagai guru RA dimulai pada tahun 2017. Saat itu, dia masih berstatus sebagai mahasiswa semester 3 jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Meski latar belakang pendidikannya tidak linier dengan pendidikan anak usia dini, kesempatan datang ketika mendapat tawaran mengajar di Bustanul Athfal (BA) Aisyiyah Tanggaran yang sedang kekurangan tenaga pendidik.
Pada awalnya, rasa tidak percaya diri menyelimuti langkahnya. Minimnya pengalaman mengajar serta belum terbiasa mengasuh anak-anak usia dini menjadi tantangan besar.
Namun, Nur Annisa tidak menjadikan keterbatasan tersebut sebagai penghalang. Dengan tekad kuat, dia terus belajar, berlatih berkomunikasi, dan memahami karakter setiap anak didiknya.
Seiring berjalannya waktu, Nur Annisa mulai menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dalam profesinya. Dunia pendidikan anak usia dini ternyata memberikan pengalaman yang sangat berharga.
Menurut dia, menjadi guru RA bukan sekadar mengajar, tetapi juga dituntut untuk terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas agar pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak.
“Ternyata terjun di dunia pendidikan anak usia dini itu sangat menyenangkan. Di sinilah saya belajar sabar, kreatif, dan terus berkembang,” ungkapnya.
Tidak berhenti di dunia pendidikan, Nur Annisa juga menunjukkan semangat mandiri dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pada tahun 2020, setelah lulus kuliah, dia mulai mencoba peruntungan di dunia usaha online yang saat itu sedang berkembang pesat.
Dia memulai langkahnya dengan bergabung sebagai startup penjual produk jilbab. Berbekal media sosial WhatsApp, dia rutin memposting produk yang dijual. Respons positif pun berdatangan.
Banyak pelanggan tertarik, sehingga usahanya berkembang ke penjualan baju dan tas dari berbagai merek. Dari usaha tersebut, Nur Annisa berhasil memperoleh keuntungan signifikan.
Selain berjualan, dia juga memanfaatkan peluang sebagai affiliate toko online atau yang dikenal dengan “toko orange”.
Dengan membagikan tautan produk, dia memperoleh komisi setiap bulan. Hasil dari berbagai usaha tersebut turut membantu meningkatkan penghasilan dan menopang perekonomian keluarga.
Kisah Nur Annisa menjadi bukti bahwa seorang guru tidak hanya berperan mencerdaskan generasi bangsa, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dengan semangat belajar, keberanian mencoba hal baru, dan konsistensi, dia menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang, khususnya perempuan dan pendidik di daerah. (gun/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah