DONGKO, Radar Trenggalek – Di usia 23 tahun, Yunita Octa Praditya telah membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu mengantarkannya meraih berbagai pencapaian hingga tingkat internasional.
Perempuan muda asal Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, itu menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk bersaing dan berprestasi di dunia akademik.
Saat ini, Yunita tengah menempuh pendidikan Magister Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), setelah sebelumnya menyelesaikan studi Sarjana Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi di kampus yang sama.
Di tengah kesibukan kuliah, dia juga aktif sebagai akademisi muda, peneliti, asisten dosen, administrator jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2, hingga koordinator pelatih renang.
Perjalanan prestasinya dimulai sejak masa kuliah. Yunita pernah terpilih sebagai Finalis Duta Kampus Sehat UNESA Tahun 2022 sekaligus menjadi perwakilan duta kampus tingkat fakultas.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik awal yang memperluas wawasan dan jejaring akademiknya.
Tak hanya aktif di organisasi dan kegiatan kemahasiswaan, Yunita juga terlibat dalam berbagai penelitian bersama dosen yang menghasilkan publikasi pada jurnal nasional maupun internasional.
Baginya, penelitian bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan sarana untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu karya yang paling membanggakan adalah pengembangan media pembelajaran SORAKDASTRA.
Inovasi tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan keterampilan gerak dasar siswa tunanetra melalui pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan menyenangkan.
Kualitas inovasi itu mengantarkan Yunita tampil dalam International Symposium Universitas Malaya, Malaysia.
Pada forum yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara tersebut, dia memperkenalkan SORAKDASTRA sebagai salah satu bentuk kontribusi anak bangsa dalam pengembangan pendidikan inklusif.
“Kesempatan memperkenalkan hasil penelitian di forum internasional menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dari sana saya belajar bahwa ide sederhana yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga bisa mendapat perhatian dunia jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Tak berhenti di dunia penelitian, Yunita juga dipercaya menjadi administrator jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2 di bidang olahraga.
Peran tersebut membuatnya akrab dengan proses publikasi ilmiah dan pengembangan kualitas penelitian para akademisi.
Selain itu, dia aktif mendampingi mahasiswa dan peneliti dalam penulisan artikel ilmiah hingga proses publikasi jurnal.
Baginya, berbagi pengetahuan merupakan bentuk kontribusi yang tidak kalah penting dibandingkan menghasilkan karya sendiri.
Di bidang olahraga, Yunita turut berkiprah sebagai koordinator pelatih renang. Dia menangani berbagai program latihan mulai dari peserta reguler, kelompok lansia, hingga penyandang disabilitas.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa olahraga harus bisa diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali.
Meski kini beraktivitas di lingkungan akademik nasional, Yunita tetap membawa semangat dari tanah kelahirannya di Dongko.
Dia berharap semakin banyak generasi muda Trenggalek yang berani bermimpi besar dan tidak ragu bersaing dengan siapa pun.
“Sebagai putra-putri daerah, kita harus yakin bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi. Terus belajar, berani mencoba, dan jangan takut gagal.
Jadikan setiap proses sebagai langkah untuk meraih cita-cita dan memberikan manfaat bagi orang lain,” pesannya.
Perjalanan Yunita menjadi bukti bahwa asal daerah bukanlah batas untuk meraih kesuksesan.
Dari Dongko, sebuah kecamatan di wilayah selatan Trenggalek, langkahnya kini menjangkau ruang-ruang akademik nasional hingga internasional.
Sebuah inspirasi bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari mana saja, selama disertai kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. (bim)
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani