KARANGAN, Radar Trenggalek - Kemampuan membaca menjadi salah satu fondasi penting bagi siswa madrasah ibtidaiyah (MI) sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Namun, kemampuan literasi siswa tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama. Ada siswa yang sudah lancar membaca, tetapi masih kesulitan memahami isi bacaan.
Persoalan tersebut menjadi tantangan bagi madrasah. Sebab, kemampuan literasi tidak cukup diukur dari kemampuan siswa melafalkan tulisan.
Lebih jauh, siswa perlu mampu memahami informasi, menemukan gagasan utama, serta menceritakan kembali isi bacaan menggunakan bahasanya sendiri.
Ketua MKKM MI Trenggalek, Andik Sulhani mengatakan, penguatan literasi perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak siswa berada di kelas awal. Kemampuan membaca harus berjalan beriringan dengan kemampuan memahami bacaan.
Baca Juga: Distribusi Guru Berkaitan Jam Mengajar
“Literasi tidak hanya bagaimana anak bisa membaca, tetapi juga bagaimana mereka memahami apa yang dibaca. Karena itu, pembiasaan membaca perlu dilakukan secara terus-menerus, baik di madrasah maupun di lingkungan keluarga,” ujarnya, Rabu (16/9).
Menurut Andik, setiap anak memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda. Karena itu, siswa yang masih mengalami kesulitan membaca maupun memahami bacaan membutuhkan pendampingan secara konsisten.
Guru tidak hanya mengejar target pembelajaran, tetapi juga perlu memastikan kemampuan dasar siswa berkembang.
Penguatan budaya literasi dapat dilakukan melalui berbagai cara. Madrasah bisa menyediakan pojok baca, memperbanyak bahan bacaan sesuai usia, membiasakan membaca sebelum pembelajaran, hingga mengajak siswa berdiskusi mengenai buku atau cerita yang telah dibaca.
Peran keluarga juga tidak kalah penting. Kebiasaan membaca akan lebih mudah tumbuh apabila anak mendapatkan lingkungan yang mendukung di rumah.
Orang tua dapat meluangkan waktu membaca bersama, mengajak anak menceritakan kembali bacaan, maupun menyediakan buku yang sesuai dengan minat dan usia anak.
Di tengah perkembangan teknologi, tantangan literasi semakin kompleks. Anak semakin dekat dengan gawai dan berbagai informasi dari internet.
Namun, kemampuan mengakses informasi belum tentu diikuti kemampuan memahami dan memilah informasi yang diterima.
Karena itu, keberhasilan literasi siswa MI tidak seharusnya berhenti pada kemampuan membaca lancar. Kemampuan memahami, mengolah, dan mengomunikasikan informasi juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Fondasi tersebut menjadi bekal penting ketika siswa menyelesaikan pendidikan MI dan melanjutkan ke jenjang MTs maupun SMP.
Jika kemampuan memahami bacaan masih tertinggal, persoalan itu berpotensi memengaruhi proses belajar di jenjang berikutnya.
Penguatan literasi akhirnya membutuhkan keterlibatan bersama. Madrasah menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, guru memberikan pendampingan, sedangkan keluarga memperkuat kebiasaan membaca dari rumah.
Dengan begitu, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai kemampuan dan potensinya. (bim/c1/din)
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK