Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Studi Psikologi Tentang Game RPG: Apakah Game Bisa Membentuk Karakter? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mahsun Nidhom • Kamis, 29 Mei 2025 | 17:00 WIB
Game bukan cuma hiburan.
Game bukan cuma hiburan.

Trenggaleknjenggelek - Game sering dianggap hanya sebagai hiburan, pelarian dari kenyataan, atau sekadar cara untuk membunuh waktu.

Namun bagi banyak pemain, terutama penggemar Role-Playing Game (RPG), game bukan hanya tentang naik level atau mengalahkan musuh.

Ada proses psikologis yang dalam di balik setiap pilihan, interaksi, dan peran yang dimainkan. Lalu, benarkah RPG bisa membentuk karakter dan kepribadian seseorang?

Jawabannya: iya, bisa. Sebuah penelitian dari Jurnal As-Syar’i: Jurnal Bimbingan dan Konseling Keluarga menjelaskan bagaimana game, terutama RPG, dapat memengaruhi aspek-aspek penting dalam perkembangan karakter seseorang.

Baca Juga: Game Mobile Legends Resmi Masuk Kurikulum, Jadi Alat Edukatif di Sekolah

RPG dan Perkembangan Empati

Dalam RPG, pemain seringkali berperan sebagai karakter utama yang harus menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh lain dalam cerita.

Interaksi ini tidak bersifat pasif, justru pemain didorong untuk memahami latar belakang, motivasi, bahkan emosi karakter lain agar bisa membuat keputusan yang tepat.

Dalam jurnal itu dijelaskan bahwa game dapat meningkatkan empati dan kemampuan berinteraksi antarpribadi.

RPG seperti Persona, Final Fantasy, atau Undertale misalnya, seringkali menyuguhkan dilema moral dan percakapan emosional yang membuat pemain merenung dan merasa terhubung secara emosional.

RPG dan Pengambilan Keputusan Moral

Salah satu fitur utama dalam game RPG adalah adanya pilihan yang memengaruhi jalannya cerita.

Pemain bisa memilih untuk membantu, bersikap netral, atau bahkan merugikan karakter lain dan pilihan tersebut biasanya berdampak pada ending atau perkembangan alur.

Dari perspektif psikologi, ini adalah bentuk simulasi pengambilan keputusan moral. Ketika seorang pemain memilih untuk berbuat baik atau jahat dalam dunia virtual, mereka secara tidak langsung mengevaluasi nilai-nilai pribadi.

Studi ini menyoroti bahwa game bisa menjadi medium latihan bagi remaja untuk belajar tentang tanggung jawab, konsekuensi, dan etika.

Baca Juga: Game Mobile Legends: Tim Esport RRQ Belum Pernah Angkat Piala M-Series, Tapi Tetap Punya Fans Terbanyak

RPG dan Eksplorasi Identitas Diri

Saat memainkan RPG, seseorang tidak hanya mengontrol karakter, tapi juga sering merasakan identifikasi yang mendalam terhadapnya.

Apalagi ketika game memberi kebebasan untuk memilih jenis kelamin, penampilan, hingga gaya bicara.

Game RPG bisa menjadi ruang aman bagi pemain terutama remaja untuk mengeksplorasi identitas, nilai-nilai, dan aspirasi diri secara psikologis tanpa tekanan dunia nyata. Dengan kata lain, RPG bisa menjadi alat refleksi diri yang efektif.

Game RPG, Ruang Bermain dan Belajar

Bermain RPG ternyata bukan cuma soal strategi dan eksplorasi dunia fantasi. Di balik grafik dan musik latarnya, RPG menyuguhkan pengalaman mendalam yang dapat membentuk karakter, mempertajam empati, serta melatih pengambilan keputusan moral.

Ketika dimainkan dengan konteks yang tepat, game RPG dapat menjadi media pembelajaran karakter yang kuat dan positif.

Maka dari itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk mulai melihat game bukan sebagai ancaman, tapi sebagai potensi pembinaan diri generasi muda. (sun)

Editor : Mahsun Nidhom
#karakter dan game #game rpg #psikologi game #escapism