Trenggaleknjenggelek - Pernah nggak sih kamu bilang “iya” padahal pengin bilang “nggak”? Atau rela begadang bantu orang lain, padahal tugasmu sendiri terbengkalai?
Nah, itulah ciri umum dari people-pleasing, kebiasaan menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.
People-pleaser sering merasa takut ditolak, nggak mau bikin orang kecewa, atau terlalu butuh validasi.
Akibatnya, mereka jadi gampang dimanfaatkan dan cenderung sulit membangun batasan yang sehat.
Dampak Diam-Diam yang Menggerogoti
Meski kelihatan “baik banget”, orang yang terlalu people-pleasing justru rentan mengalami:
- Kelelahan mental, karena merasa harus selalu tampil sempurna.
- Stres dan kecemasan, karena memendam emosi sendiri.
- Kehilangan jati diri, karena terlalu sibuk jadi “orang lain” demi diterima.
- Bahkan, dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu burnout sosial.
Belajar Bilang “Tidak” Tanpa Rasa Bersalah
Menolak bukan berarti jahat. Justru, dengan belajar menetapkan batasan, kita bisa menjaga diri sekaligus tetap peduli dengan orang lain secara sehat.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah: beri jeda sebelum menjawab permintaan, supaya kamu bisa refleksi dulu, “Aku beneran mau, atau cuma takut dibilang nggak asik?”
People-pleasing mungkin terlihat mulia, tapi kalau berlebihan justru bikin kita kehilangan arah. Ingat, menyenangkan orang lain itu baik, asal tidak mengorbankan diri sendiri. (sun)