Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Fenomena People-Pleasing: Ketika “Nggak Enakan” Jadi Beban Mental

Mahsun Nidhom • Minggu, 22 Juni 2025 | 02:45 WIB
Terlalu “nggak enakan” bisa jadi sumber stres.
Terlalu “nggak enakan” bisa jadi sumber stres.

Trenggaleknjenggelek - Pernah nggak sih kamu bilang “iya” padahal pengin bilang “nggak”? Atau rela begadang bantu orang lain, padahal tugasmu sendiri terbengkalai?

Nah, itulah ciri umum dari people-pleasing, kebiasaan menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.

People-pleaser sering merasa takut ditolak, nggak mau bikin orang kecewa, atau terlalu butuh validasi.

Akibatnya, mereka jadi gampang dimanfaatkan dan cenderung sulit membangun batasan yang sehat.

Dampak Diam-Diam yang Menggerogoti

Meski kelihatan “baik banget”, orang yang terlalu people-pleasing justru rentan mengalami:

Belajar Bilang “Tidak” Tanpa Rasa Bersalah

Menolak bukan berarti jahat. Justru, dengan belajar menetapkan batasan, kita bisa menjaga diri sekaligus tetap peduli dengan orang lain secara sehat.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah: beri jeda sebelum menjawab permintaan, supaya kamu bisa refleksi dulu, “Aku beneran mau, atau cuma takut dibilang nggak asik?”

People-pleasing mungkin terlihat mulia, tapi kalau berlebihan justru bikin kita kehilangan arah. Ingat, menyenangkan orang lain itu baik, asal tidak mengorbankan diri sendiri. (sun)

SINERGI: Sejumlah stakeholder yang menyatu dalam upaya pelestarian laut di kawasan Tulamben yang terkemuka.
SINERGI: Sejumlah stakeholder yang menyatu dalam upaya pelestarian laut di kawasan Tulamben yang terkemuka.
Ilustrasi penanggalan Jawa 1 Suro
Ilustrasi penanggalan Jawa 1 Suro
Editor : Mahsun Nidhom
#dampak psikologis #people pleasing #kesehatan mental