Trenggaleknjenggelek - Ketika membuka aplikasi, mata kita langsung disambut oleh warna dominan.
Tapi tahukah kamu, warna-warna ini bukan dipilih sembarangan? Dalam dunia UI/UX (user interface/user experience), psikologi warna punya peran besar dalam membentuk suasana hati pengguna dan mendorong perilaku tertentu.
Mengapa Instagram Didominasi Biru dan Ungu?
Instagram dulunya punya ikon kamera kuning-cokelat, tapi berubah drastis dengan gradasi ungu, pink, dan biru.
Di dalam aplikasinya sendiri, biru masih menjadi warna yang paling sering muncul, terutama dalam notifikasi dan tombol.
Biru melambangkan kepercayaan dan ketenangan.
Aplikasi ini ingin memberi kesan aman dan nyaman, apalagi berkaitan dengan privasi dan koneksi sosial.
Biru juga umum digunakan di dunia teknologi, lihat saja Facebook, Twitter, hingga LinkedIn.
Gradasi warna memberi kesan kreatif dan modern.
Warna cerah memberi daya tarik visual yang cocok dengan gaya hidup muda, dinamis, dan ekspresif yang jadi target utama Instagram.
TikTok dan Daya Tarik Warna Gelap
Sementara itu, TikTok punya tampilan yang lebih gelap dengan dominasi hitam, merah, dan biru kehijauan.
Hitam memberi kesan fokus dan dramatis.
Dalam konteks TikTok, warna ini membantu menyorot konten video dengan lebih kuat, tanpa gangguan visual dari latar terang.
Warna gelap juga menimbulkan nuansa misterius dan edgy.
Cocok dengan karakter TikTok yang cepat, spontan, dan kadang sedikit “chaotic”.
Merah sebagai warna aksen memberi energi dan urgensi.
Tombol “like” atau notifikasi dibuat menarik perhatian secepat mungkin.
Warna Bisa Menentukan Loyalitas
Kita mungkin tak sadar, tapi warna membantu otak mengingat dan mengenali aplikasi dengan cepat.
Warna juga memengaruhi bagaimana kita merasa saat menggunakan aplikasi—apakah nyaman, semangat, atau justru stres. (sun)