Trenggaleknjenggelek – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 harus dijadikan titik tolak untuk memperkuat perlindungan anak di era digital. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menekankan bahwa perayaan HAN tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum nasional untuk menggalang kolaborasi menghadapi risiko digital yang makin mengintai anak-anak Indonesia.
Sekretaris Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu, menyampaikan bahwa kehadiran negara harus dirasakan langsung oleh anak-anak, terutama dalam perlindungan terhadap bahaya di ruang digital.
“HAN 2025 harus jadi ajakan konkret untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk ancaman, termasuk di dunia digital yang semakin kompleks,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi publik perlu memainkan peran sebagai penggerak perubahan. Pesan-pesan perlindungan anak, termasuk literasi digital dan etika berinternet, harus terus digaungkan di media sosial, komunitas, dan ruang-ruang daring lainnya.
“Anak-anak membutuhkan pendampingan nyata, bukan hanya pengawasan, agar mereka dapat tumbuh cerdas dan aman di era digital,” tegas Titi.
Tema HAN 2025, Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045, dengan tagline Anak Indonesia Bersaudara, membawa salah satu narasi utama yaitu Anak Cerdas Digital. Narasi ini merupakan bagian dari kampanye nasional yang bertujuan menyiapkan generasi anak yang kritis, berdaya, dan mampu menjelajahi ruang digital dengan aman.
Sementara itu Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital, Molly Prabawati, mengungkapkan bahwa risiko digital pada anak semakin nyata. Berdasarkan data UNICEF, setiap setengah detik satu anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di Indonesia, lebih dari 9 persen dari total 221 juta pengguna internet adalah anak di bawah usia 12 tahun.
“Ini menempatkan anak pada risiko tinggi terhadap konten berbahaya, eksploitasi daring, dan penipuan digital. Perlindungan anak tidak bisa lagi ditunda,” kata Molly.
Ancaman digital terhadap anak, lanjutnya, tidak bisa dihadapi oleh satu pihak saja. Pemerintah berharap keterlibatan aktif dari lembaga pendidikan, komunitas, pengembang teknologi, serta orang tua dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman dan mendidik.
“Perlindungan anak di dunia nyata dan dunia maya harus berjalan seiring. Jika kita ingin anak-anak hebat tumbuh kuat, maka keamanan digital adalah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Molly.
Peringatan HAN tahun ini menjadi pengingat sekaligus seruan moral bahwa masa depan anak-anak Indonesia juga ditentukan oleh sejauh mana kita menjaga mereka saat bersentuhan dengan teknologi hari ini. Kolaborasi menjadi kata kunci, karena perlindungan anak adalah tanggung jawab semua pihak.(jaz)
Editor : Zaki Jazai