Trenggaleknjenggelek – Puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2025 semestinya lebih dari sekadar kemeriahan. Pasalnya, peringatan ini menjadi pengingat bahwa membahagiakan anak Indonesia tak cukup hanya lewat seremoni—melainkan memerlukan keterlibatan nyata seluruh elemen masyarakat.
Acara yang mengusung tema "Anak Indonesia Bersaudara" ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Hj. Arifatul Choiri Fauzi, bersama 1.050 anak dari PAUD hingga SMA serta perwakilan Forum Anak dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Beragam kegiatan digelar mulai dari penampilan tarian Bujang Ganong, permainan tradisional seperti ular tangga, congklak, egrang, bakiak, dam-daman, hingga gangsing. Selain itu, anak-anak juga mendapat susu dan telur ayam, serta menikmati suasana bermain bersama dengan riang.
Baca Juga: Screen Time Berlebih Picu Gangguan Mental Anak, Waspada pada Penggunaan Durasi dan Dampaknya
Dalam momen itu pula, 1 ton ikan segar diserahkan kepada 20 panti asuhan dalam rangka Gerakan Gemar Makan Ikan.
Namun di balik kegembiraan itu, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa perlindungan dan kebahagiaan anak Indonesia harus terus dijaga secara kolektif.
“Menjaga talenta anak dan memberi ruang agar mereka bisa berprestasi adalah tanggung jawab bersama. Kita harus hadir untuk melindungi dan membahagiakan mereka setiap saat, bukan hanya saat peringatan,” katanya.
Baca Juga: Anak Sekolah Jago Ngoding, Tapi Gagal Menyapa Tetangga: Apa yang Salah?
Menteri PPPA Arifatul Fauzi juga mengingatkan, data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) mencatat 16.713 kasus kekerasan terhadap anak terjadi sejak 1 Januari 2025.
“Sebanyak 62,8 persen korbannya adalah anak-anak, dan 80,5 persen di antaranya anak perempuan,” ungkapnya. Ia menyebutkan pola asuh yang keliru, penggunaan gawai yang tidak bijak, serta lingkungan yang tidak aman sebagai penyebab utama.
Baca Juga: Basket dan Sepak Bola Kian Diminati, Olahraga Anak Muda Makin Berkembang di Trenggalek
Merespons situasi ini, Kementerian PPPA tengah menggalakkan program pembatasan gawai dan mengenalkan kembali permainan tradisional, lagu kebangsaan, serta cerita pahlawan nasional. Tujuannya tak sekadar nostalgia, tapi membangun karakter anak yang kuat dan berjiwa kebangsaan.
“Keluarga harus menjadi benteng pertama. Pendidikan agama, akhlak, dan budi pekerti adalah fondasi utama. Negara tidak bisa sendiri, masyarakat harus menjadi bagian dari upaya ini,” ujar Arifatul.
Ia juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas penyelenggaraan kegiatan yang menyenangkan dan edukatif ini. Namun ia mengingatkan, peringatan HAN tidak boleh berhenti sebagai ajang simbolik.
“Bahagia itu hak anak, dan tugas kita adalah memastikan itu nyata dalam kehidupan mereka sehari-hari,” tutupnya.(jaz)
Editor : Zaki Jazai