Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Eco Anxiety: Kecemasan Iklim yang Diam-diam Menghantui Anak Muda

Betty Khasandra Pujayanti • Jumat, 1 Agustus 2025 | 21:27 WIB
Ilustrasi anak muda yang membawa tanaman sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan.
Ilustrasi anak muda yang membawa tanaman sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan.

Trenggaleknjenggelek- Iklim yang tidak menentu bukan hanya menimbulkan bencana, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis manusia, terutama anak muda. Pasalnya, anak muda menjadi kelompok paling rentan mengalami kecemasan iklim atau eco anxiety akibat paparan berita seputar krisis lingkungan yang terus-menerus.

Iklim yang rusak membuat sebagian dari anak muda merasa takut, cemas, dan kehilangan arah terhadap masa depan bumi yang makin tak pasti.

Anak muda sering kali merasa kecil, tidak berdaya, dan tak bisa berbuat banyak, meski mereka sadar bahwa kerusakan alam adalah ancaman nyata. Eco anxiety bukan gangguan kejiwaan resmi, tetapi gejalanya semakin terlihat.

Gangguan tidur, panik, hilang konsentrasi, hingga rasa putus asa mulai dirasakan sebagian besar remaja dan mahasiswa.

Kecemasan ini muncul karena mereka hidup di era digital yang penuh informasi. Setiap hari, media sosial membanjiri mereka dengan video kebakaran hutan, banjir ekstrem, hingga kepunahan satwa.

Iklim ekstrem terasa semakin dekat. Beberapa remaja merasa panik saat musim hujan datang lebih awal atau kemarau makin panjang.

Anak muda yang aktif di komunitas lingkungan terkadang juga merasa frustasi.

Upaya mereka seperti ditelan arus industri besar yang terus merusak alam.

Solusi sederhana seperti mengurangi sampah plastik, ikut kampanye lingkungan, atau menanam pohon bisa membantu mengurangi rasa cemas.

Psikolog menyarankan agar anak muda membatasi konsumsi konten digital yang penuh kekhawatiran.

Mereka harus memilih informasi yang solutif, bukan hanya memaparkan dampak tanpa arah.

Orang tua dan guru juga memegang peran penting. Mereka bisa menciptakan ruang diskusi yang aman, mendampingi anak mengenal isu lingkungan tanpa menakut-nakuti atau menyalahkan generasi muda.

Kesehatan mental harus menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan. Aktivitas seperti membuat taman komunitas, berkebun, atau daur ulang bersama bisa menjadi terapi sekaligus bentuk kontribusi.

Iklim dan mental adalah dua sisi dari isu yang sama. Jika bumi rusak, manusia pun akan terdampak secara fisik dan emosional.

Institusi pendidikan juga harus mulai menyadari pentingnya isu ini. Beberapa sekolah dan kampus telah menggabungkan kurikulum lingkungan dan program konseling agar siswa lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Pemerintah juga diharapkan membuat kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.

Dukungan terhadap energi bersih, transportasi ramah lingkungan, dan edukasi publik bisa menjadi langkah nyata mengurangi kecemasan iklim.

Anak muda adalah agen perubahan. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa menjadi garda depan penyelamat bumi sekaligus menjaga generasi mereka dari tekanan psikologis yang berlebihan.(jaz)

Editor : Zaki Jazai
#lingkungan #Eco Anxiety #psikologi #generasi muda #krisis iklim #anak muda