Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ketika Lansia Jadi Lebih Sensitif: Psikiater UNAIR Ungkap Penyebab dan Peran Keluarga

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 4 Agustus 2025 | 02:06 WIB
Aktivitas sederhana seperti memainkan puzzle bisa menjaga otak tetap aktif dan menurunkan risiko demensia di usia tua.
Aktivitas sederhana seperti memainkan puzzle bisa menjaga otak tetap aktif dan menurunkan risiko demensia di usia tua.

Trenggaleknjenggelek - Fenomena meningkatnya perasaan sensitif pada orang lanjut usia (lansia) semakin sering terlihat di tengah masyarakat.

Lansia yang mudah marah atau sedih kerap menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga, terutama jika muncul indikasi menyakiti diri atau orang lain.

Dosen Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), dr Erikavitri Yulianti, menegaskan perlunya edukasi mengenai gejala umum dan diagnosis dari tenaga ahli untuk memahami kondisi ini.

Menurutnya, penting membedakan apakah perasaan tersebut masih tergolong normal atau sudah mengarah pada gangguan kejiwaan.

Menurut Erika, faktor penyebab meningkatnya sensitivitas pada lansia berkaitan erat dengan perubahan fisik dan kesehatan yang melemah.

Lansia merasa kehilangan otonomi atas tubuhnya sendiri sehingga mudah frustrasi.

Penurunan fungsi otak dan saraf turut berdampak pada kemampuan kognitif, seperti mengingat dan berbahasa, yang akhirnya memengaruhi kontrol emosi.

“Terjadinya tahap baru kehidupan seperti pensiun, kehilangan rutinitas yang diikuti kemunduran fisiknya dan kehidupan sosial yang semakin terbatas menyebabkan lansia merasa tidak berdaya apabila dibantu, namun apabila tidak dibantu akan merasa diabaikan. Sehingga akan cukup menantang bagi keluarga dalam memahami emosi lansia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perubahan pola tidur pada lansia yang cenderung pendek dan terputus-putus secara alami juga memengaruhi kondisi emosi.

Selain itu, efek samping sejumlah obat untuk penyakit degeneratif kerap menimbulkan ketidaknyamanan fisik yang berimbas pada suasana hati.

“Dampak dari perasaan sensitif ini dapat meningkatkan risiko cemas dan depresi, penurunan hubungan sosial dan kemungkinan lansia mengisolasi diri. Selain itu, dampak lainnya yaitu menurunnya minat lansia dalam melakukan aktivitas sehari-sehari sehingga lansia akan lebih banyak berdiam diri,” jelas Erika.

Untuk memastikan penyebabnya, Erika menekankan perlunya diagnosis yang tepat melalui wawancara klinis dan observasi dengan metode yang sesuai.

Komunikasi yang baik akan membantu lansia merasa nyaman dalam menyampaikan perasaannya.

Dari sana, psikiater bisa mendeteksi perubahan pola perilaku, seperti tidur, nafsu makan, maupun aktivitas harian.

“Selanjutnya psikiater dapat melakukan penilaian psikometri dengan beberapa instrumen untuk melihat kesesuaian dengan apa yang diungkapkan lansia untuk menyimpulkan status mental. Masih normal atau terdapat indikasi depresi dan gangguan kecemasan. Terapinya dapat dilakukan tanpa pemberian obat, namun apabila tidak efektif maka dapat diberikan obat sesuai dengan resep dokter,” ujarnya.

Di sisi lain, peran keluarga dianggap krusial untuk memberikan dukungan emosional maupun sosial.

Hal ini diyakini dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus mengurangi risiko masalah mental.

Dukungan tersebut bisa berupa menjaga komunikasi, mendorong kemandirian, hingga memastikan lansia tetap bersosialisasi.

“Keluarga harus jeli melihat perbedaan perasaan sensitif normal yang frekuensinya sesekali dengan perasaan sensitif yang tidak normal apabila terjadi secara terus menerus tanpa penyebab yang jelas. Apabila terdapat perubahan sikap sosial, tidak bisa bersosialisasi, insomnia, hilang minat, putus asa hingga halusinasi segera konsultasikan pada psikiater,” pungkasnya. (kho)

Photo
Photo
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#sensitif #unair #lansia