Trenggaleknjenggelek – Kalimat sederhana dari Caca Tengker dalam sebuah sesi wawancara di kanal YouTube “Relate” menyentuh banyak orang: “Sulit banget untuk mencintai diri sendiri… rasanya mencintai orang lain lebih gampang.”
Pernyataan ini seolah mewakili suara hati banyak orang yang merasa lebih mudah menunjukkan kasih pada orang lain dibandingkan pada diri sendiri.
Menurut para psikolog, hal ini berkaitan erat dengan rendahnya self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.
Dr. Kristin Neff, pakar psikologi dari University of Texas, menyatakan bahwa banyak individu cenderung memperlakukan diri sendiri lebih buruk dibanding cara mereka memperlakukan orang lain, terutama saat mengalami kegagalan atau kekecewaan.
Dalam konteks Caca, ia menggambarkan dengan sangat jujur: “Kalau teman jatuh, kita semangatin. Tapi kalau kita sendiri yang jatuh, kita maki.”
Refleksi ini menggambarkan betapa kritisnya seseorang terhadap dirinya sendiri, sebuah pola yang kerap muncul dalam masyarakat perfeksionis dan berorientasi pencapaian.
Peneliti menyebut ini sebagai bentuk “inner critic” atau suara batin yang terlalu keras, yang jika dibiarkan dapat menurunkan harga diri dan memicu stres kronis.
Ironisnya, justru ketika seseorang sedang jatuh, ia paling membutuhkan kelembutan dari dalam dirinya sendiri—bukan penghukuman.
Maka dari itu, penting bagi siapa pun untuk melatih diri mengenali batas kemampuan, mengizinkan diri untuk gagal, dan memaafkan kesalahan pribadi.
Menjadi teman bagi diri sendiri adalah keterampilan emosional yang perlu diasah, bukan muncul secara otomatis.
Caca melalui pengalamannya membuka ruang diskusi bahwa menerima dan mencintai diri bukan proses instan. Ini perjuangan jangka panjang.
Tapi setidaknya, kesadaran itu adalah langkah awal menuju penyembuhan emosional. (mal)