Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Beauty Collapse Effect: Saat Sikap Buruk Menghancurkan Pesona Wajah Rupawan

Amalia Rizky Indah Permadani • Minggu, 10 Agustus 2025 | 14:00 WIB
Beauty collapse effect menjadi pengingat bahwa penampilan adalah aset yang mudah pudar.
Beauty collapse effect menjadi pengingat bahwa penampilan adalah aset yang mudah pudar.

Trenggaleknjenggelek - Fenomena beauty collapse effect terjadi ketika daya tarik seseorang anjlok drastis karena perilaku negatif.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa satu tindakan merendahkan atau sikap tidak mau mendengar bisa menghapus kesan positif yang dibangun sebelumnya.

Penelitian oleh Clifford Nass menunjukkan, otak manusia lebih fokus pada perilaku buruk daripada baik.

Hal ini berkaitan dengan insting bertahan hidup—manusia perlu cepat mengenali ancaman sosial.

Dalam konteks ini, perilaku yang membuat orang lain merasa tidak dihargai dianggap ancaman terhadap kenyamanan psikologis.

Kasus ini sering terlihat di dunia selebritas. Figur publik yang awalnya dipuja karena penampilan bisa kehilangan penggemar akibat satu komentar kontroversial.

Dalam kehidupan sehari-hari, teman atau pasangan yang awalnya menarik bisa kehilangan pesona ketika perilakunya membuat orang lain merasa diremehkan.

Sebaliknya, orang yang secara visual biasa-biasa saja bisa mendapatkan efek sebaliknya—reverse beauty effect.

Pesona mereka tumbuh seiring berjalannya waktu, berkat keramahan, empati, dan kemampuan membangun percakapan bermakna.

Persepsi fisik pun ikut berubah karena otak mengaitkan rasa nyaman dengan daya tarik.

Beauty collapse effect menjadi pengingat bahwa penampilan adalah aset yang mudah pudar, sementara kepribadian adalah investasi jangka panjang dalam membangun daya tarik. (mal)

Editor : Amalia Rizky Indah Permadani
#beauty collapse #psikologi